Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Modernitas

Jangan Seperti Mr. Bean

Mr. Bean itu sebenarnya orang yang santai atau pemarah? Sebelum memberi label salah satu dari itu, mari kita analisa filemnya... Overthinking Mr. Bean selalu tampak berpikir berlebihan. Emangnya overthinking itu salah ya? Tentunya bukan soal benar atau salah. Tapi apa pun yang berlebihan itu tidak baik. Atau begini prinsip saya: jangan berjalan menuju jurang untuk mengetahui tepinya di mana. Terutama jika Anda tidak dapat memprediksi apakah ada yang akan mendorong Anda masuk dalam jurang. Atau ada angin kencang yang tidak sengaja melakukannya. Selain itu, keinginan untuk segera mendapat kejelasan atau buru-buru ingin memperoleh kebenaran membuat kita ingin cepat-cepat mengambil kesimpulan tapi ketakutan akan sesuatu membuat berpikir lagi dan lagi.   Hipotesa Singkat Karena hasrat ingin segera memecahkan masalah, Mr. Bean justru tidak memikirkan akibat untuk jangka panjang. Akibatnya selalu mencelakai diri sendiri. Nah dari 2 analisa saya di atas atas filem serial Mr. Bean, ...

Inklusif versus Eksklusif

Pastinya istilah inklusif atau eksklusif tidak lagi asing bagi kita yang intens menyimak dinamika di masyarakat. Sebenarnya kedua hal itu positif atau negatif sih? Selama tidak menjadikan orang lain sebagai obyek, kedua makna tersebut bisa bermakna positif.  Bagaimana membuatnya bermakna positif? Eksklusif Tentunya kita merasakan kenyamanan ketika berada di tengah teman-teman yang memiliki kesamaan. Di tengah kawan-kawan yang hobi menggambar, melihat lukisan teman yang begitu indah saya terinspirasi untuk berkarya juga. Karena saya juga hobi menggambar dan menyadari tehnik saya belum secanggih dia, saya mencari informasi yang bermanfaat. Indahnya berbagi dan mendorong semangat berkarya apa lagi di kelompok dengan kesamaan hobi. Inklusif Apakah perbedaan membuat kita merasa terancam? Perbedaan itu melengkapi. Suatu lukisan akan lebih indah ketika berwarna-warni. Rasakan perbedaan ketika mempertentangkan perbedaan atau bersikap berseberangan dengan ketika kita belajar dari perbedaan ...

Managing Certainty

Hi Fellows, how are you doing? I hope you are healthy. Who is the person here that due to pandemic he must re-arrange his next year personal plan, business plan and any other plans? However let us maintain our happiness in our heart.  Let us doing something which we can do in this uncertain condition. For me, I upgrade my self with any skills. I make my self as busy as I can so I don't have enough time to think of any worriness. I believe our current time and current self is our valuable investment for the future. Keep up your spirit! 

Menyelamatkan Adat

Saya tidak yakin apakah saya masih tergolong anggota masyarakat adat Jawa Tengah. Praktisnya tentu tidak. Pertama, karena sejak lahir saya tinggal di kota kosmopolitan Jakarta. Di sini, ada interaksi berbagai macam budaya daerah. Kedua, orang tua saya, meskipun keduanya Jawa, tidak pernah berbicara dalam bahasa Jawa di rumah. Ketiga, karena miskinnya pengaruh budaya asli Jawa seperti dari mana nenek moyang saya berasal, setiap kali berbicara dalam bahasa Jawa logat saya terdengar wagu atau tidak pantas. Menyedihkan buat saya jika seorang keturunan Jawa tidak bisa berbahasa Jawa. Jadinya kalau ditanya aslinya mana? Lebih akurat kalau saya bilang bahwa saya orang Jakarta. Menurut AMAN   atau lembaga yang memperjuangkan nasib masyarakat adat, indigineous people (Eng.) adalah komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal usul leluhur secara turun-temurun di atas suatu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh...

Memanfaatkan Waktu

Hai teman-teman sedang apakah saat ini? :) Sedang santai? Inikah cara kamu memanfaatkan waktu luang? Dengan browsing ? Maaf, harusnya saya tanya sebelumnya, apakah kamu punya waktu luang? Saya yakin beberapa akan mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai waktu luang. Beberapa bahkan mengatakan "kalau bisa waktu 24 jam sehari harus ditambah." Saya termasuk golongan yang terakhir. Bukan bermaksud untuk bilang bahwa saya orang yang paling sibuk di dunia, karena pikiran itu cuma sesaat saja, ketika saya sedang ditimbun pekerjaan transkrip yang harus saya kerjakan di kala week end. Jadi kalau orang lain liburan, saya justru kerja di kala week end. Tapi semua itu saya syukuri sebagai suatu kepercayaan dan rasa berharga bahwa saya bisa membantu orang lain. Apakah saya sebaliknya merasa tidak berharga atau bingung ketika tidak ada side job di kala week end? Yang paling berasa itu pundi-pundi rekening di bank, sih, hehehe... Tapi itu saya nikmati sebagai dinamika hidup saj...

Mau Pindah Agama?

Pengalaman seseorang membentuk seseorang…. Selamat Natal 2014 dan Tahun Baru 2015. :) Seorang teman memuat artikel harian online di timeline media sosial. Uniknya, selain karena ini cerita tentang proses seorang yang berpindah agama, artikel ini juga menyebut lokasi tempat ibadah di mana saya bertumbuh di bilangan Jakarta. Lucunya, sebut saja si A, seorang tokoh yang pindah agama ini menyebutkan faktor eksternal melulu sebagai   faktor penyebab dia pindah agama. Saya tidak ingat apakah saya pernah kenal Mas A ini, atau minimal dia adalah seorang pasifis bukannya aktifis. Berbeda dengan pengalaman 3 (tiga) teman sebelumnya di artikel Convert di blog saya ini , mereka berpindah agama semata karena mimpi dan panggilan hati yang sebenarnya sulit untuk dideskripsikan (bagi saya bukan mimpinya sebenarnya tetapi panggilan Ilahi yang misterius membuat saya lebih percaya bahwa proses pengalaman batiniah itu terjadi dibandingkan dengan alasan praktis lainnya seperti kare...

Functional Gift

Akhirnya setelah mencari-cari kesempatan, saya berhasil memakai functional gift yang pernah diberikan ketiga boss saya sebagai hadiah Tahun Baru 2014, di awal January 2014: Starbucks Membership Card dengan saldo yang lumayan. Setelah registrasi online dan mengintip beberapa menunya, saya memilih Caramel Frappuchino blended Coffee and whipped cream. Setelah mendapatkan segelas es kopi ini saya segera menuju ke salah satu sudut store. Iseng-iseng saya amati aktivitas pengunjung di Starbucks. Ada yang sibuk dengan gadget dan ada juga yang asyik ngobrol. Seorang teman yang saya ajak untuk ikut menghabiskan isi saldo belum datang sehingga buku yang baru saya beli "Hidup Sederhana" oleh Desi Anwar menemani saya sementara.   Sebelumnya saya berniat untuk menggunakan kartu ini ketika saya bekerja mengejar dead-line transkrip atau terjemahan. Tetapi rupanya kesempatan itu baru datang di masa tenang, ketika saya bisa menikmati waktu, having me-time... sambil menunggu te...

Major-Minor Scale in Indonesia

Dear Friends, how are you? I want to share something regards to my opinion about our closest surrounding. I am inspired after I watched Youtube recording of Ligwina Hananto's statement about triple majority and her political view which is not really political base on her owned opinion. :) I studied in Catholic school for many years and it makes me could not realize at the beginning that I am a part of minority society. I 'awake' when in my childhood, my neighbor start asking about my religion and when I come to her birthday party and made the sign of the cross. Her face show disliking. Pity of me, I am the only one there who did it. When I grew up becoming adult, I believe 100% that the major-minor scale is not really matter when you indeed respect other as other human.  Actually, the majority and minority scale in each district in Indonesia is different one to another. In Java the major society is Javanese and Moeslem, in Ambon  is Ambonese and Christian, in Bali is ...

We are Just a Number? Create a Number!

Dear Friends, How are you? Hoping so much that you are well. When I write this I am feeling sad. Because one of my beloved friend block me in social media. But it is okay. I always believe that the real friendship can only happen in real life not the virtual one. :) However, please kindly review my previous post of Happynomics and Masa Depan Yang Banyak Pilihan posts. This article, this time is about our turbulence as employee and to ease weary we must have a lot of back-up plan, which now every young man try hard to start his own business to get economics independence. I am sad of separation, one of my close friend must accept working termination per one day notice. So harmful. It is violent. But as I write before as employee we are just a number. When we are working as payee, we are calculated as cost too. It is realistic, too. Hmmmpphhh... I walk my talk with starting my own business per inch. Even though other know me as job traveler, this time I want to work as profess...

The Real War: Separatism in Any Aspect of Life

Dear Friends, I've just going back home from Angkringan, road-side food stall which are frequented visit by lower class people in Indonesia. The reason for me to come quite often there is the cheap rate of Rp 4000 [US$ 0.48] for a small, fist-sized portion of rice along with toppings and the cozy environment to be easy to talk one to another visitor even one to another is stranger :) There is no objection from each of us if suddenly we participate into another visitor conversation. Guess what happen next? We become friends.  It is hard to find this opportunity in other eatery place, I believe, which is most visited by high class, busy person with high tight schedule and no spontaneous talk can come up. Do you know how I start the conversation with stranger? By seeing similarity with others. At the time I see a young woman take tofu more than once, I said,"I like tofu, too." We start friendship, get connected to another because of similarity. But what happen to o...

Kompetensi Mengalahkan Nepotisme dan Kolusi

Pengalaman yang selalu saya ingat dan menjengkolkan adalah pengalaman ketika akan masuk ke SMA homogen favorite di bilangan Jakarta Selatan. Setiap kali mau masuk ke jenjang berikutnya meski sekolah itu berasal dari yayasan yang sama, saya pasti selalu melalui screening -nya, selalu ikut test dan lulus. Itu namanya ikut proses. Tapi Kanjeng Ratu lebih merasa total, justru jika mengikuti cara kebanyakan, nepotisme. Beliau mengajakku menemui dulu penguasa di sekolah, Suster Kepala, di SMA homogen favorite yang akan aku masuki. Katanya, beliau mau mengenalkanku dengan Suster Kepala sebagai future student. Untuk apa, kataku. I deserve to be recognized as illegible student after passing the screening test. Harusnya ketika menimbang faktor itu, faktor bakal dituduh kolusi pun harus dipertimbangkan. Seperti kata kenalan pada waktu itu, "Waktu itu sih ada orang tua dari Medan yang bayar masuknya 2 juta." Beliau senyum-senyum. Muka saya panas telinga terbakar. Haduh, saya cu...

Komunitas Homogen

Homo bukan konotasi negatif lho. Secara denotatif homo artinya sama dan gen atau gender. Arti lengkapnya gender yang sama . Kalau dihitung-hitung sudah 3 (tiga) kali nih saya tinggal di komunitas homogen. Pertama di SMA, kedua ketika kuliah, ketiga, sekarang ini, di kantor yang paling ganteng ya, cuma owner -nya. Bosen ? Pastilah. Malah ada teman saya yang bilang, "Oh, loe kelamaan di komunitas homogen , ya? Pantesan loe kayak gitu ." Bingung kan , maksudnya apa 'kayak gitu '? Nggak jelas. Tapi rata-rata teman yang lain bilang: mereka yang lulus dari komunitas ini akan jadi wanita yang mandiri, berani, tahan banting dan percaya diri. Sebenarnya saya mau menambahkan kata cuek , tapi ada teman yang mengasumsikan cuek dengan berbusana sekedarnya. Bukan itu maksud saya. Saya mau bilang lulusan komunitas homogen itu cuek karena nggak terlalu pusing dengan omongan orang karena mereka sudah tahu pasti dengan apa yang mau mereka capai dan yakini. Begitu. ...

NRIMO ING PANDUM

Kebetulan saya mendapat tugas mengetik transkrip dari audio rekaman wawancara dengan relawan korban gempa di Yogya tahun 2006. Wawancara ini dilakukan oleh peneliti yang ditugaskan untuk menggali data tentang situasi terakhir masyarakat DIY korban gempa mulai dari 6 bulan, 1 tahun sampai 1,5 tahun terakhir. Tujuan dari penggalian data dari pihak PMI ini terutama adalah mencari kebutuhan manajemen relawan yang masih akan dibutuhkan di masa mendatang, mengingat rawannya wilayah Indonesia akan bencana alam. Yang ingin saya kutip terutama adalah penggalian makna NRIMO atau lengkapnya NRIMO ING PANDUM, menerima sesuatu sesuai bagiannya , yang sudah menjadi kultur masyarakat Jawa Tengah, turun temurun. Bagaimana sikap ini dileburkan dalam realitas kesusahan para korban menghadapi bencana gempa? BERGESER: Para relawan menyadari penghayatan masyarakat Jawa tentang konsep ini sudah mulai bergeser. Sebagian orang menuntut agar dapat menerima bantuan meskipun ada masyarakat lain yang lebih membut...

Solusi Instan untuk Sendiri (2)

Produk inovasi yang satu ini saya kategorikan sebagai Public Instrument, karena diperuntukkan ditempatkan di public area. Pastinya disukai pecinta lingkungan atau melegakan pemda Jakarta yang pusing soal banjir. Harapannya dengan dipasang Urban Umbrella ini banjir akan cepat diatasi karena air hujan yang berlebihan dan tidak dapat ditampung aspal atau beton(tentunya), bisa langsung masuk dalam tanah sehingga air tanah pun dapat dikonservasi. Terima kasih untuk Adrianus Darmawan. Sebagai ibu rumah tangga eh tepatnya seorang istri yang menghadapi persoalan teknis di rumah, keliatannya produk2 ini bakal jadi favourite mereka. Maka saya kategorikan produk-produk ini sebagai Housewife Instrument : Sebagai seorang Qoenang yang hidup bersama seorang Djangkriek , harus tabah menghadapi pemaksaan kemandirian. Terutama soal membuang binatang tidak penting di rumah, seperti kecoa, cacing, tikus, kelabang hiiiii yah begitulah adanya, datang tak diundang pulang tak diantar... tapi susah diusir...

Solusi Instan untuk Sendiri

Saya sangat tertarik dengan kompetisi inovasi produk yang baru-baru ini diadakan sebuah brand rokok yang identik dengan anak muda http://www.blackinnovationawards.com/ . Sudah tahun kedua kompetisi ini diselenggarakan. Salah satu tujuan kompetisi ini cukup mulia yaitu menciptakan produk yang bermanfaat bagi masyarakat, yang orisinil, dan merupakan solusi dari masalah sehari-hari. Dan iseng juga untuk share bagaimana inovasi mereka cocok buat saya :P Gambar 2 namanya BAR WAY (curiga diambil dari kata bus way) dan diciptakan oleh Dika Gusti Nugraha . Cocok saya bawa dalam tas kalau harus pulang pergi naik bus, dan ga perlu repot lagi cuci tangan sehabis bepergian naik bus. Selain itu saya bisa meneruskan hobi baca, atau tidur sambil berdiri dalam bus... tanpa kuatir nyungsep .. Sedang gambar 1 namanya TASENDEN oleh Dony Arsetyasmoro , cocok buat pembonceng yang sering ketiduran di atas motor. Jadi suami ga perlu cubit2 paha saya lagi... (to be continued)

Batas Modernitas

Semakin lama saya semakin percaya bahwa theory comes after practice . Kalau sampai sekarang kita masih mengingat siapa penemu-penemu benua Amerika, gravitasi bumi bahkan teori piramida kebutuhan, sekaligus kita perlu mengingat bahwa untuk sampai pada penemuannya mereka punya proses pengalaman, eksperimen, percobaan dan penelitian yang cukup panjang. Mereka sudah mengalami sesuatu. Teori atau pun produk yang muncul kemudian adalah hasil dari praktek-praktek yang mereka lihat, amati atau coba sendiri. Tidak heran mereka yang mudah merusak adalah mereka yang tidak pernah mengalami atau mencari tahu sendiri bagaimana proses mencipta. Setiap penemuan baru, atau aturan baru membutuhkan eksekutor yang mau dan mampu berubah. Mana yang lebih penting? Hasil penemuan itu secara langsung menunjukkan modernitas dengan sendirinya atau masyarakatnya yang diharapkan dinamis yang kemudian boleh langsung dicap modern? Kalau kita tengok kesederhanaan suku Badui, mereka punya landasan filosofi yang tetap ...

Female Single Parent

Female Single Parent [1] : Jaman Sekarang Akhir-akhir ini, kita cukup sering menonton TV yang didominasi sinetron Indonesia. Kita amati bersama tema sinetron akhir-akhir ini kurang lebih sama: mistik, perebutan harta warisan, cinta remaja, bahkan sampai soal menikah muda... Beberapa judul sinetron dengan nama perempuan Indonesia, . menarik perhatian kita. Sinetron itu berkisah perempuan tanpa suami yang mengasuh sendiri anak mereka, merekalah Female Single Parent [2] (FSP). Pada kenyataannya sosok FSP mungkin cukup dekat dengan lingkungan pertemanan kita. Bersama buah hati, FSP masih menghadapi persoalan hidupnya yang unik sampai saat ini. Kondisi Perempuan Jaman Dulu dan Sekarang Tradisi dalam masyarakat dari dulu sampai sekarang menempatkan wanita sebagai second class. Mulai dari masa dipandang tabu untuk mengungkapkan perasaan suka lebih dulu, sampai saat ini, di mana pertimbangan wanita memilih pasangannya semakin beragam. Kriteria Memilih Pasangan dan Komitmen Menikah Kriteria wa...