Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Dinamisme

Sendratari Ciptoning: Totalitas Seni, Totalitas Pendidikan

Saya termasuk beruntung ketika berhasil mendapatkan tiket untuk nonton sendratari Ciptoning di Gedung Kesenian Jakarta hari Sabtu, tanggal 14 Maret 2015. Dengan kebaikan seorang teman yang sudah mengorganisir agar kami - para murid Sanggar Padnecwara bisa duduk dan menonton bersama. Kami adalah satu angkatan paling baru dan tentunya senang sekali bisa menonton karya sang Maha Guru Retno Maruti. Seperti satu adegan klimaks dalam banyak episode dalam hidup saya, kalau tidak dianggap berlebihan: saya telah menyaksikan totalitas seni. Seperti yang dikatakan oleh seorang pembicara dalam Seminar Nasional "Memanusiakan Anak bangsa Melalui Penguatan Karakter" di auditorium Bank Indonesia hari Sabtu tanggal 17 Januari tahun 2015, 'proses pendidikan sejak tempo dulu di Indonesia diperoleh secara otentik, bukan plagiat, melalui budaya Timur, kearifan lokal'. Penyelenggara yang asalnya dari persatuan umat Hindu di Nusantara tersebut menyatakan bahwa pertapaan, pel...

Happynomics: Ready Travel

Teori the Secret terbukti dengan pengalaman pagi ini. Iseng-iseng saya mencari informasi mengenai usaha travel perorangan, akhirnya saya menemukan jawabannya pagi ini. Yes, saya pun siap menerima reservasi tiket sebagai usaha sampingan. Tentang bagaimana saya memanfaatkan waktu sudah cukup banyak saya belajar. Sekarang saya lebih hati-hati dalam memanfaatkan waktu sendiri dan orang lain. Saya jadi orang yang tidak mudah berjanji. Wish me luck!

Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela

Author: Tetsuko Kuroyanagi Published: 1981 Totto Chan tertarik dengan hal-hal baru dan sering berubah cita-cita. Ia tidak pernah duduk diam, dan menahan untuk tidak spontan merespon hal-hal baru. Hal yang menyelamatkan perkembangan dirinya di masa kanak-kanak adalah bahwa mama tidak mengatakan terus terang sebab ia harus pindah sekolah. Citra diri positif Totto Chan terjaga. Sekolah yang baru bukan sekolah elit dengan fasilitas elit atau label yang keren. Kepala Sekolah Kobayashi menjadikan alam sebagai kelas, membangun imajinasi anak-anak untuk merekam hal-hal baru yang mereka pelajari di sekolah. Anak-anak belajar dari pengalaman terdekat. Di masa itu, mereka mengalami relasi antar manusia yang makin berkembang dengan nilai-nilai yang diberikan Kepala Sekolah... dengan kejujuran, dengan penghargaan terutama dengan warna kepolosan anak-anak.

Malena: How Do You Respect A Woman?

Kasihan Malena ( Monica Belucci)..... Perempuan bersuami yang cantik dan sexy ini dijadikan obyek seksual. Ketika suaminya yang tentara berangkat berperang, meski banyak warga kota yang memahami 'rasa sepi' nya, tidak ada yang mau menemani Malena. Malah ia sarat menerima sekaligus: kekaguman, caci maki, pergunjingan, bahkan jadi obyek fantasi seksual anak belasan... Judul: Malena Pemain: Monica Belucci, Giuseppe Sulfaro, Luciano Frederico Mmmm..saya telah membandingkannya: ketika Malena jalan sendiri, semua prasangka dan gunjingan negatif para wanita di kota ditambah pandangan lelaki hidung belang, lekat padanya. Sebaliknya, ketika suaminya kembali dari perang dengan satu lengan, semua orang menaruh hormat padanya. Latar belakang Perang Dunia II mengikuti alur cerita. Malena diceritakan dalam banyak kondisi: ketika sendirian, ketika kesepian.. Jika seorang pria beristri tidak puas dengan apa yang dia dapatkan di rumah... lalu melampiaskan nafsunya pada wanita lain...pert...

Horeluya

Judul: Horeluya Penulis: Arswendo Atmowiloto Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama Tahun: April 2008 Tebal: 240 hal, 20 cm Genre: Adult Fiction Buku yang masuk segmen minoritas ini seperti ingin menanggapi trend sastra yang sedang diminati kalangan mayoritas (tepatnya skala mayor minor di Indonesia saja). Saatnya nanti akan membedakan apakah novel ini cukup menarik minat banyak orang untuk juga difilmkan menimbang skala mayor dan minor tersebut. Tapi ini cuma berandai segmen pasar aja kok. Isi novel menampilkan kondisi sekarang dengan latar belakang keluarga Jawa iman Katholik. Cahaya dalam keluarga meredup ketika penerang mereka Lilin, jatuh sakit. Banyak hal kemudian dipertanyakan, untuk mengkritisi kebahagiaan sendiri juga iman sendiri: Apakah dalam sengsara kita masih dapat memuliakan Allah? Apakah masih dapat disyukuri? Mengapa orang Katholik berdoa di depan patung? Seperti ingin menertawakan fobia terhadap simbol2, semua ingin menjelaskan realitas iman...