Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Correct Me If I'm Wrong

Mengalah Bukan Kalah

Betapa ketatnya persaingan di dunia kerja saat ini. Masing-masing dari kita tidak hanya bersaing dengan teman tetangga kubikel tetapi juga dengan teman expatriate yang akan datang. Mengalah bukan kalah adalah sikap yang saya anjurkan untuk tetap konstruktif menghadapi kondisi lingkungan terdekat. Bagaimana? Bukannya ini menegasi sikap untuk selalu kompetitif? Tidak. Sikap ini mendorong kita untuk selalu berkarya atau produktif dalam situasi terburuk sekalipun.  Betapa seringnya kita berkeringat dan mengeluarkan otot leher ketika kita mati-matian berdebat mempertahankan pendapat kita. Tentunya - ya - kita harus mempertahankan pendapat jika kita yakin kita benar tetapi dengan cara yang cepat. Bukan dengan debat kusir atau mengulang lagi makna yang sama tetapi dengan menggali lebih dalam makna yang mau kita sampaikan. Bagaimana caranya? Dengan melakukan hal yang positif dan produktif. Karena mengedukasi orang lain memang bukan tugas kita terhadap orang lain jika dia sudah ...

Menyelamatkan Adat

Saya tidak yakin apakah saya masih tergolong anggota masyarakat adat Jawa Tengah. Praktisnya tentu tidak. Pertama, karena sejak lahir saya tinggal di kota kosmopolitan Jakarta. Di sini, ada interaksi berbagai macam budaya daerah. Kedua, orang tua saya, meskipun keduanya Jawa, tidak pernah berbicara dalam bahasa Jawa di rumah. Ketiga, karena miskinnya pengaruh budaya asli Jawa seperti dari mana nenek moyang saya berasal, setiap kali berbicara dalam bahasa Jawa logat saya terdengar wagu atau tidak pantas. Menyedihkan buat saya jika seorang keturunan Jawa tidak bisa berbahasa Jawa. Jadinya kalau ditanya aslinya mana? Lebih akurat kalau saya bilang bahwa saya orang Jakarta. Menurut AMAN   atau lembaga yang memperjuangkan nasib masyarakat adat, indigineous people (Eng.) adalah komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal usul leluhur secara turun-temurun di atas suatu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh...

Memanfaatkan Waktu

Hai teman-teman sedang apakah saat ini? :) Sedang santai? Inikah cara kamu memanfaatkan waktu luang? Dengan browsing ? Maaf, harusnya saya tanya sebelumnya, apakah kamu punya waktu luang? Saya yakin beberapa akan mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai waktu luang. Beberapa bahkan mengatakan "kalau bisa waktu 24 jam sehari harus ditambah." Saya termasuk golongan yang terakhir. Bukan bermaksud untuk bilang bahwa saya orang yang paling sibuk di dunia, karena pikiran itu cuma sesaat saja, ketika saya sedang ditimbun pekerjaan transkrip yang harus saya kerjakan di kala week end. Jadi kalau orang lain liburan, saya justru kerja di kala week end. Tapi semua itu saya syukuri sebagai suatu kepercayaan dan rasa berharga bahwa saya bisa membantu orang lain. Apakah saya sebaliknya merasa tidak berharga atau bingung ketika tidak ada side job di kala week end? Yang paling berasa itu pundi-pundi rekening di bank, sih, hehehe... Tapi itu saya nikmati sebagai dinamika hidup saj...

Sendratari Ciptoning: Totalitas Seni, Totalitas Pendidikan

Saya termasuk beruntung ketika berhasil mendapatkan tiket untuk nonton sendratari Ciptoning di Gedung Kesenian Jakarta hari Sabtu, tanggal 14 Maret 2015. Dengan kebaikan seorang teman yang sudah mengorganisir agar kami - para murid Sanggar Padnecwara bisa duduk dan menonton bersama. Kami adalah satu angkatan paling baru dan tentunya senang sekali bisa menonton karya sang Maha Guru Retno Maruti. Seperti satu adegan klimaks dalam banyak episode dalam hidup saya, kalau tidak dianggap berlebihan: saya telah menyaksikan totalitas seni. Seperti yang dikatakan oleh seorang pembicara dalam Seminar Nasional "Memanusiakan Anak bangsa Melalui Penguatan Karakter" di auditorium Bank Indonesia hari Sabtu tanggal 17 Januari tahun 2015, 'proses pendidikan sejak tempo dulu di Indonesia diperoleh secara otentik, bukan plagiat, melalui budaya Timur, kearifan lokal'. Penyelenggara yang asalnya dari persatuan umat Hindu di Nusantara tersebut menyatakan bahwa pertapaan, pel...

Major-Minor Scale in Indonesia

Dear Friends, how are you? I want to share something regards to my opinion about our closest surrounding. I am inspired after I watched Youtube recording of Ligwina Hananto's statement about triple majority and her political view which is not really political base on her owned opinion. :) I studied in Catholic school for many years and it makes me could not realize at the beginning that I am a part of minority society. I 'awake' when in my childhood, my neighbor start asking about my religion and when I come to her birthday party and made the sign of the cross. Her face show disliking. Pity of me, I am the only one there who did it. When I grew up becoming adult, I believe 100% that the major-minor scale is not really matter when you indeed respect other as other human.  Actually, the majority and minority scale in each district in Indonesia is different one to another. In Java the major society is Javanese and Moeslem, in Ambon  is Ambonese and Christian, in Bali is ...

We are Just a Number? Create a Number!

Dear Friends, How are you? Hoping so much that you are well. When I write this I am feeling sad. Because one of my beloved friend block me in social media. But it is okay. I always believe that the real friendship can only happen in real life not the virtual one. :) However, please kindly review my previous post of Happynomics and Masa Depan Yang Banyak Pilihan posts. This article, this time is about our turbulence as employee and to ease weary we must have a lot of back-up plan, which now every young man try hard to start his own business to get economics independence. I am sad of separation, one of my close friend must accept working termination per one day notice. So harmful. It is violent. But as I write before as employee we are just a number. When we are working as payee, we are calculated as cost too. It is realistic, too. Hmmmpphhh... I walk my talk with starting my own business per inch. Even though other know me as job traveler, this time I want to work as profess...

The Real War: Separatism in Any Aspect of Life

Dear Friends, I've just going back home from Angkringan, road-side food stall which are frequented visit by lower class people in Indonesia. The reason for me to come quite often there is the cheap rate of Rp 4000 [US$ 0.48] for a small, fist-sized portion of rice along with toppings and the cozy environment to be easy to talk one to another visitor even one to another is stranger :) There is no objection from each of us if suddenly we participate into another visitor conversation. Guess what happen next? We become friends.  It is hard to find this opportunity in other eatery place, I believe, which is most visited by high class, busy person with high tight schedule and no spontaneous talk can come up. Do you know how I start the conversation with stranger? By seeing similarity with others. At the time I see a young woman take tofu more than once, I said,"I like tofu, too." We start friendship, get connected to another because of similarity. But what happen to o...

Cinderella Complex 2

Hai pembaca, Dengan mereview apa yang saya tulis sebelumnya tahun 2008 tentang Cinderella Complex , nyatanya ada persoalan yang belum putus pada diri seorang wanita, the Prime Minister , yang kini ada dalam pernikahan, yang kembali menghadapi konflik internal dalam dirinya soal kemandirian. Apa alasan reflektif dan visioner dari seorang wanita yang memutuskan untuk menikah? Alasan rata-rata (yang tidak lebih penting dari tujuan) wanita ingin menikah adalah: Ring 1  'Karena sudah saling mencintai dan punya komitmen untuk hidup bersama.' Secara sederhana berarti menikah adalah satu cara yang dipilih untuk berbagi hidup dengan seorang yang kita pilih sebagai ring 1, lingkaran relasi yang paling privat. Kalau di phonebook teman, dia sudah tandai kekasihnya sebagai 01 atau artinya Ring 1. :) Memberi Diri Memberi diri  tanpa kehilangan diri itu bagaimana sih? Sayangnya berdasarkan pengalaman pribadi, saya bukanlah contoh yang bagus. Sehingga saya kuatir tidak punya kapa...

Kompetensi Mengalahkan Nepotisme dan Kolusi

Pengalaman yang selalu saya ingat dan menjengkolkan adalah pengalaman ketika akan masuk ke SMA homogen favorite di bilangan Jakarta Selatan. Setiap kali mau masuk ke jenjang berikutnya meski sekolah itu berasal dari yayasan yang sama, saya pasti selalu melalui screening -nya, selalu ikut test dan lulus. Itu namanya ikut proses. Tapi Kanjeng Ratu lebih merasa total, justru jika mengikuti cara kebanyakan, nepotisme. Beliau mengajakku menemui dulu penguasa di sekolah, Suster Kepala, di SMA homogen favorite yang akan aku masuki. Katanya, beliau mau mengenalkanku dengan Suster Kepala sebagai future student. Untuk apa, kataku. I deserve to be recognized as illegible student after passing the screening test. Harusnya ketika menimbang faktor itu, faktor bakal dituduh kolusi pun harus dipertimbangkan. Seperti kata kenalan pada waktu itu, "Waktu itu sih ada orang tua dari Medan yang bayar masuknya 2 juta." Beliau senyum-senyum. Muka saya panas telinga terbakar. Haduh, saya cu...

Jembatan

Misiku adalah menjadi jembatan bagi tiap orang, antara orang dengan yang lain atau dengan mimpinya. Kadang berhasil kadang gagal. Salah satu achievement-ku adalah menjodohkan orang sampai mereka menikah. Hehehehe... seneng banget. Tapi kalau soal mencarikan pekerjaan, susah kayaknya. Karena ternyata lebih sulit menjodohkan antara kebutuhan dan kualifikasi orang dengan lainnya dibandingkan dengan menjodohkan orang yang punya komitmen hidup bersama.

Black or White

Hi all.. before reading my article this time, please kindly review my previous one, here . It is about in general we think differently and realize how biased we are. In Discovery Channel which I watch in National Educational Ministry library, I found amazing facts that however all of us are unconsciousness product of racial awareness.  48% Afro American like their own race but 17% European American like their own race. It means more European American people like Afro American race. Even there is no pursuit of being biased in our parents way of education, but there is an factor that can impact our preference of the white one or black one, no matter what race we are. It is our consistency to integrate in our daily practice in life how to respect others with different condition.

The Depth of Love

I am not a kind of woman who daily put on make up. :) But if there is special occasion that needs me to dress up, i will do it without hesitation. And it is best moment when others tell that you are beautiful, right? :) Every woman needs that statement. And don't forget to tell the same to other woman, politely, sincerely. I ask to my self why troubles mostly come to beautiful woman or handsome man? My above statement probably is the answer. But if we keep the memory of this, we can't start friendship with our opponent-gender-mate, because of our prejudice, "probably he or she is falling in love with me or wants me". Open our mind as a child, even though it is difficult, to start new friendship. One lesson I got is... don't being proud or happy if a guy say he loves you because you are beautiful. It is the indication of being fake. Because the most qualified value in your self is your soul, your personality. He likes your physic not your soul. It is temporar...

Changing Ability

Hi, anyone, who quite often visiting my blog... Finally I encourage my self to start writing again.... Ehm, probably one of you think, what betray me so it is quite long not posting my writing in this blog. It is so complicated to explain... even I don't like also that statement, :) But believe me I just don't want you to have headache by reading my awkward story. So shortly, I commit with my previous commitment but I change. I become the agent of change for my self, being better person. So it is true that I don't mean to compete with anyone. I just want to be better.. urip luwih becik, Javanese person said. 1. God Put Smile on My Face Seeing me... I smile more often. This is my top change. 2. Friendlier I will try hard to greet anyone first. Anyone. 3. More Patient and Calm You will rarely see me get angry with. I am well trained of it. 4. Focus and Sharp I will face every emergency situation with better self control. Think sharper. 5. Sweet I become more ...

Naive

Naive is having or showing a lack of experience, judgment, or information; credulous. There are naive people surrounding me. :) But in addition, they are naive especially because they cannot absorbing all information I have ever given.  I didn't say that they are mean, but it is annoying that the fact that ever been delivered to someone cannot change his or her perspective anyway. Tiring, sometime. So at the time that they are conservative-way-of thinking-person, I stop arguing with them and try to be understood why they act like that.  I learn in this university of life that to have open minded and being critical with new things will bring you the the new world, even if it is the world that you don't expect before but you have to face it, dealing it and overcome all new problems caused by. :) Cheers.

Happynomics

Pertama kali istilah ini dimunculkan Yoris Sebastian. Semakin terpublikasi ketika Andy menanyakan arti istilah itu dalam acaranya di KickAndy. Artinya bebas ekonomi karena melakukan pekerjaan yang disenangi. Malam tadi saya mendengar seorang wanita setengah menangis, merengek tepatnya, bicara di telpon untuk dikirimi uang 4 juta rupiah. Dia sungguh mengiba, minta tolong. Saya sendiri tidak lupa saat meminta pinjaman uang kepada sanak saudara. Sangat tidak enak. Kondisi seperti itu menunjukkan ketidakberdayaan kita: mungkin dalam hal mengatur keuangan, besar pasak daripada tiang. Hal di atas juga mendorong saya untuk melanjutkan niat saya untuk mencapai happynomics . Memulai dari hal yang paling kecil. Kebetulan saya adalah seorang yang pendiam, mendengar adalah kekuatan saya. Dan saya suka menulis. Keduanya saya gabungkan dalam profesi saya sejak tahun 2009, menjadi transcriptionist , menuliskan kembali rekaman audio yang saya dengar atau menjadi note taker pang...

TAU

TAU seperti 3 huruf belakang motor Djangkriek. Tau berarti bebas. Tau berarti selamat dari kebinasaan. Saya senang memakai kalung itu segera setelah tahu artinya. Saya bersyukur karena saya bisa dalam kepahitan, termasuk minum jamu ;) Bagaimana pun filosofis itu dalam diri seorang Katholik membuat saya tidak ragu-ragu lagi melihat dan menerima apa yang menjadi salib saya. Ya memang harus begitu. Hidup itu tidak bisa memilih senangnya saja. Saya ingat ketika kanonik atau ujian sebelum pasangan Katholik menikah, pastor tanya, apakah kamu yakin akan bahagia? Saya jadi kuatir bahwa pastor melihat wajah saya sedih terus. Tapi karena memang dari dulu wajah saya begini, sendu (bukan senang duit) saya bilang pada pastor itu, "Bahagia itu jangka panjang, Romo. Dalam perjalanannya ada senang dan sedih." Sekarang saya lihat jalan itu masih panjang. Saya pasti bisa melaluinya.

Komunitas Homogen

Homo bukan konotasi negatif lho. Secara denotatif homo artinya sama dan gen atau gender. Arti lengkapnya gender yang sama . Kalau dihitung-hitung sudah 3 (tiga) kali nih saya tinggal di komunitas homogen. Pertama di SMA, kedua ketika kuliah, ketiga, sekarang ini, di kantor yang paling ganteng ya, cuma owner -nya. Bosen ? Pastilah. Malah ada teman saya yang bilang, "Oh, loe kelamaan di komunitas homogen , ya? Pantesan loe kayak gitu ." Bingung kan , maksudnya apa 'kayak gitu '? Nggak jelas. Tapi rata-rata teman yang lain bilang: mereka yang lulus dari komunitas ini akan jadi wanita yang mandiri, berani, tahan banting dan percaya diri. Sebenarnya saya mau menambahkan kata cuek , tapi ada teman yang mengasumsikan cuek dengan berbusana sekedarnya. Bukan itu maksud saya. Saya mau bilang lulusan komunitas homogen itu cuek karena nggak terlalu pusing dengan omongan orang karena mereka sudah tahu pasti dengan apa yang mau mereka capai dan yakini. Begitu. ...

The Convert

Convert. .. bukan berarti mengubah bentuk file soft copy ke bentuk software berbeda yang berbeda. :) Tapi mirip-mirip sih ya. Kali ini yang saya maksud lebih dalam nilainya. Soal keyakinan, pegangan hidup, iman, agama dan lain-lain, jika ada di antara pembaca yang punya istilah sendiri. Suatu kali saya tanya pada seorang pastor, "Mo, pegangan hidup orang atheis itu apa ya?" Email saya tidak dijawab. Lalu email saya kirim kembali dan saya terima jawaban yang setengah marah-marah. "Orang atheis itu ya tidak punya pegangan hidup tho Nge . Nggak punya iman, harapan dan cinta. Kalau ada orang atheis yang merasa pegangan hidup dan tidak merasa kosong, mungkin sebenarnya dia tidak atheis. " Oke, tapi saya kadang merasa empty . Apakah sebenarnya saya sedang meniadakan Tuhan? Ada beberapa peristiwa yang kalau dicarikan hubungan kausalnya, sampai saat ini belum dapat saya temukan. Mereka adalah 3 orang yang hadir dalam hidup saya. Tidak ada yang kebetulan dalam ...

Sang Kandidat

Entah apa sebabnya, dalam beberapa bulan ini saya mengeksplorasi beberapa orang yang namanya sama. Tanpa alasan. Bukan Fit & Proper Tes t. Mungkin sekedar hayalan atau ikuti kata hati saja. Boss saya di kantor lama, seorang yang perfeksionis, sangat berpengalaman soal human resources , dan sangat berpengetahuan di bidang itu suatu hari bilang, " Ah , sayang banget , setelah ketemu dengan kandidat General Manager tadi gue nggak nemu chemistry -nya." Nah, lho . Kok masih 'ngomongin chemistry ? Lain cerita, boss lama yang lain meminta saya mencari seorang sekretaris yang cocok dari 25 CV yang saya pilih, saya panggil, diinterview. Hasilnya? Dia hanya betah bekerja selama 2 bulan. Kata Boss kepada sang sekretaris, "Kamu kenapa resign ? Saya kan cocok sama kamu." "Terima kasih, Pak. Tapi saya nggak cocok sama Bapak." Jadi apa ukuran memilih kandidat? Sebelum tahu kinerja, kepribadian dan tingkah laku seseorang, toh kita harus percaya pada sel...