Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Redup

Tragedi Pus Mungil

"Dia mati," Ropik kembali masuk ke dalam rumah. "Hah?," aku kaget beneran. Iya, tidak menyangka pus mungil itu tiada secepat itu. "Tadi sekelebatan aku melihat buntut kucing dewasa," Ropik terduduk dengan wajah setengah tidak percaya. "Dan itu induknya. Leher si Kuneng terluka seperti bekas gigitan." "Kamu mau bilang induknya yang..?" Ini tidak sesuai harapan. Menyedihkan. Bencana kehewanan.  "Padahal aku taruh Soklat dan Kuneng di depan rumah supaya... " lelaki tinggi legam itu tidak melanjutkan bicaranya. "Supaya induknya menemukannya dan memberinya susu. Atau supaya ada yang kasihan dan memeliharanya," aku cepat menukas, memastikan jalan pikiranku sama dengan pria ini. Ropik mengambil tanah dan pasir dan menaruhnya dalam ember semen. Si Kuneng yang malang dikuburkan dengan hormat.  "Eh, ke mana si Soklat?" hanya Kuneng yang kulihat ditimbun tanah. "Mungkin dibawa induknya, mungkin diambil orang, aku...

Mengalah Bukan Kalah

Betapa ketatnya persaingan di dunia kerja saat ini. Masing-masing dari kita tidak hanya bersaing dengan teman tetangga kubikel tetapi juga dengan teman expatriate yang akan datang. Mengalah bukan kalah adalah sikap yang saya anjurkan untuk tetap konstruktif menghadapi kondisi lingkungan terdekat. Bagaimana? Bukannya ini menegasi sikap untuk selalu kompetitif? Tidak. Sikap ini mendorong kita untuk selalu berkarya atau produktif dalam situasi terburuk sekalipun.  Betapa seringnya kita berkeringat dan mengeluarkan otot leher ketika kita mati-matian berdebat mempertahankan pendapat kita. Tentunya - ya - kita harus mempertahankan pendapat jika kita yakin kita benar tetapi dengan cara yang cepat. Bukan dengan debat kusir atau mengulang lagi makna yang sama tetapi dengan menggali lebih dalam makna yang mau kita sampaikan. Bagaimana caranya? Dengan melakukan hal yang positif dan produktif. Karena mengedukasi orang lain memang bukan tugas kita terhadap orang lain jika dia sudah ...

Kompetensi Mengalahkan Nepotisme dan Kolusi

Pengalaman yang selalu saya ingat dan menjengkolkan adalah pengalaman ketika akan masuk ke SMA homogen favorite di bilangan Jakarta Selatan. Setiap kali mau masuk ke jenjang berikutnya meski sekolah itu berasal dari yayasan yang sama, saya pasti selalu melalui screening -nya, selalu ikut test dan lulus. Itu namanya ikut proses. Tapi Kanjeng Ratu lebih merasa total, justru jika mengikuti cara kebanyakan, nepotisme. Beliau mengajakku menemui dulu penguasa di sekolah, Suster Kepala, di SMA homogen favorite yang akan aku masuki. Katanya, beliau mau mengenalkanku dengan Suster Kepala sebagai future student. Untuk apa, kataku. I deserve to be recognized as illegible student after passing the screening test. Harusnya ketika menimbang faktor itu, faktor bakal dituduh kolusi pun harus dipertimbangkan. Seperti kata kenalan pada waktu itu, "Waktu itu sih ada orang tua dari Medan yang bayar masuknya 2 juta." Beliau senyum-senyum. Muka saya panas telinga terbakar. Haduh, saya cu...

Changing Ability

Hi, anyone, who quite often visiting my blog... Finally I encourage my self to start writing again.... Ehm, probably one of you think, what betray me so it is quite long not posting my writing in this blog. It is so complicated to explain... even I don't like also that statement, :) But believe me I just don't want you to have headache by reading my awkward story. So shortly, I commit with my previous commitment but I change. I become the agent of change for my self, being better person. So it is true that I don't mean to compete with anyone. I just want to be better.. urip luwih becik, Javanese person said. 1. God Put Smile on My Face Seeing me... I smile more often. This is my top change. 2. Friendlier I will try hard to greet anyone first. Anyone. 3. More Patient and Calm You will rarely see me get angry with. I am well trained of it. 4. Focus and Sharp I will face every emergency situation with better self control. Think sharper. 5. Sweet I become more ...

TAU

TAU seperti 3 huruf belakang motor Djangkriek. Tau berarti bebas. Tau berarti selamat dari kebinasaan. Saya senang memakai kalung itu segera setelah tahu artinya. Saya bersyukur karena saya bisa dalam kepahitan, termasuk minum jamu ;) Bagaimana pun filosofis itu dalam diri seorang Katholik membuat saya tidak ragu-ragu lagi melihat dan menerima apa yang menjadi salib saya. Ya memang harus begitu. Hidup itu tidak bisa memilih senangnya saja. Saya ingat ketika kanonik atau ujian sebelum pasangan Katholik menikah, pastor tanya, apakah kamu yakin akan bahagia? Saya jadi kuatir bahwa pastor melihat wajah saya sedih terus. Tapi karena memang dari dulu wajah saya begini, sendu (bukan senang duit) saya bilang pada pastor itu, "Bahagia itu jangka panjang, Romo. Dalam perjalanannya ada senang dan sedih." Sekarang saya lihat jalan itu masih panjang. Saya pasti bisa melaluinya.

Investasi Nilai

Tadinya saya pikir sesama lulusan mobile learning civil society: Active Non Violence akan tetap mengingat nilai kemanusiaan, shared leadership dan Pancasila (yang terakhir yang paling minimal nih harusnya, karena nilai paling umum sebagai warga Indonesia , terutama angkatan Penataran P4 ). Nyatanya tidak, dan akibatnya menohok Djangkriek dari belakang, stab him behind . Saya ikut sakit hati .. ehm... karena saya menganggap apa yang sudah saya bangun selama 11 tahun, membangun citra diri yang semakin baik untuk Djangkriek (lamanya kenal dengan Djangkriek dari mulai pacaran sampai menikah) diruntuhkan oleh kawan sendiri sesama anggota komunitas itu. Masalahnya? Dia meniadakan hasil kerja keras suami tercinta. Mau tahu pelanggaran nilai apa? PANCASILA Sila Kelima Pancasila butir kesepuluh: Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Apakah experential learning berhenti ketika kita masuk di dunia kerja? Apakah semua aspek hidup t...

Skala Pelit versus Pemerahan Tenaga

Untung saja aku berharap F, jadi tidak sedih-sedih amat ketika keluar kamar pengakuan sambil memegang Form Performance Appraisal dengan tulisan C . Average , karena aku orang average? Atau karena ada high expectation di-balik-nya. Jadi ingat sekali duluuuuu waktu jamannya sekolah dan harus menghadapi 2 macam ujian, ujian nasional dan ujian swasta (yang dibuat oleh guru sendiri). Kalau sedang menghadapi Ujian Nasional aku gumbiraaaa sekali, karena soal-soalnya jauh lebih mudah dijawab dari pada Ujian Swasta. Jadi guru sendiri itu bikin standar tinggi, skala yang jauuuh, dengan high expectation di baliknya...menurutku. Tenaga yang dikeluarkan untuk Ujian itu udah 300 persen. Tapi lebih dari itu, soal-soal yang kualitatif memang menciptakan peluang untuk didebat, dipertanyakan, dan emang subyektif. Beda dengan yang kuantitatif... Bagaimana pun kita selalu harus diuji untuk jujur pada diri sendiri mau pun orang lain...transparan.

32 Tahun Bersaudara Bertetangga

"Selamat pagi, saya mencari rumah yang kedengaran suara bayinya," ibu muda itu tertawa ketika melihat tetangga sebelah rumah menggendong aku yang masih bayi, belum lama lahir ke dunia.. Tawanya seakan ingin membagi kebahagiaan, sama2 baru dikaruniai anak pertama. Meski saat itu putrinya sudah berumur 2 tahun. Besoknya baju2 bayi dan perlengkapan datang, masih banyak kado kelahiran putrinya yang belum terpakai. Semua itu untukku. 32 tahun kemudian. Rrrriiiiiing, handphoneku berdering, kepalaku yang masih berat akibat tensi 80/50 mungkin membuat orang di seberang sana menunggu lama untuk dijawab. "Ing, Bude mau ukur tensi kamu sekarang," Tidak berapa lama beliau sudah datang di ruang tamu, membawa pengukur tensi, "Sudah naik, 110/80" "Saya sudah sempat ke dokter Bude, tapi masih kurang enak badan tadi sampai muntah2..." Ibu itu datang lagi, besoknya, menemui ibuku. "Mbakyu, Mbakyu kan sekarang sedang banyak kebutuhan," sambil bicara be...

Rumah Sakit Kita

Petugas dengan tutup kepala seperti perawat lengkap dengan sarung tangan dan sepatu boot membangunkan para penunggu pasien di ruang tunggu ICU lantai 2 gedung Jantung Nasional. Karena cara simpatiknya tentunya para pengungsi temporer yang kelelahan cepat terbangun dan merapikan barang2 gelarannya sepanjang istirahat malam: tikar, selimut, bantal... Satpam berseragam hitam memanggil penunggu pasien, seorang yang sedang tidur serta merta bangun dengan kondisi name tag penunggu pasien di punggung, dia tidak dulu mengaca tapi langsung menuju pintu masuk yang tertulis, dilarang masuk selain jam besuk. Tidak beberapa lama dia keluar dan menangis... siapa yang tahan melihat orang yang dikasihi menderita?

Yudas Iskariot

Kalau dulu Yudas Iskariot menjual Yesus pada kaum Farisi untuk ditahan dan disalibkan, mungkin di masa sekarang ada juga orang seperti itu yang mementingkan harta daripada persaudaraan yang sudah terjalin sekian lama. Warisan itu bukan hak yang harus dituntut sampai darah penghabisan, meski banyak sekali perkara warisan yang membuat persaudaraan terputus...Tapi warisan itu sebenarnya adalah bentuk kasih sayang orang tua pada anak, dan bukan sekedar nilai nominal, ada nilai lainnya... Warisan yang lebih penting adalah nilai2 kejujuran, kerja keras, takwa dan kemanusiaan. Sadar atau tidak sadar pastinya tiap leluhur mewariskannya, tapi tidak pernah ada yang memeliharanya dengan baik, tapi malahan menjual warisan duniawi menjadi uang uang dan uang lalu habis dimakan waktu.

Sic Transeat Gloria Mundi

Di daerah Jawa Tengah, di sebuah kota penghasil rokok terbesar di Indonesia, berdirilah rumah nenek moyang kami. Rumahnya sangat besar, tembok bata menjulang tinggi, halamannya luas, beberapa pohon rambutan berbuah lebat, merah dan manis-manis buahnya. Dulu saya, dan adik-adik saya, biasa bermain di pekarangannya. Kadang, digelarlah meja pingpong di teras rumah. Beberapa pemuda sering datang untuk bermain pingpong. Saya tidak pernah bertemu Eyang Putri dan Kakung, tapi cukup kenal dari foto mereka yang sudah menguning dan cerita tentang mereka. Pahamlah bagaimana karakter mereka bisa mengalir dalam diri saya... Kalau kami berjalan ke dapur, di sana kami jumpai topeng-topeng Semar, Petruk, Gareng dan Bagong, menjadi ciri khas pawon yang di ujung depannya langsung merupakan pintu keluar yang tiap siang hari hanya tertutup tirai bambu. Sumur ada di tengah belakang..., tepat di seberang ruang keluarga ada sebuah rumah kecil yang merupakan rumah makan. Tepat di samping kiri sumur adalah tem...

Amigos en El Senor

Manusia memulai hidupnya di dunia dan berkenalan dengan sekitarnya. Dalam hidupnya ada perjumpaan dan perpisahan. Perpisahan itu akan jadi berarti bila meninggalkan kenangan tersendiri di hati orang yang mengalaminya. Friends in the Lord Arti 'Amigos en El Senor' adalah friends in the Lord, Teman-teman dalam Tuhan, sebuah inspirasi dari sejarah spiritualitas Ignasian. Mengapa harus 'en El Senor'? Karena cuma ungkapan itu yang membuat 'harta' saya saat ini dalam kondisi 'just fine', mereka (teman-teman saya) ada dalam pagar 'en El Senor' yang 'lintas batas'. Berpisah Sementara Beberapa kali saya mengalami perpisahan dengan teman, sahabat dan saudara yang membawa kesedihan kadang sebentar atu membekas cukup lama. Mereka berpindah tempat tinggal, harus melanjutkan studi di tempat lain, atau meninggal: saya dengan mereka berpisah waktu, berpisah ruang dan juga berpisah alam. Setiap mengenang setiap teman, saya sekaligus mengenang keunikan tia...

Techno Addicted

Sekarang orang-orang Kampung Betawi hampir hapal sama kebiasaanku 'mojok' sehabis jam 21.00... Apa lagi? Janjian chatting sama MISUA, update my blog atau cek email... Akhir-akhir ini saya pikir saya jadi agak techno adddicted (atau telekomunikasi addicted?). Karena kalau jaringannya sedang lola: perut mules, rambut kriting, mesti dibelain deh dateng malem2 jam 12 sampai dini hari, tapi sialnya banyak orang punya semangat yg sama...Untung insomnia jadinya nggak bete banget keluar malam. Padahal lagi butuh, urgent, mendesak... Kalo udah gini mesti bela-belain lagi besoknya datang lagi... bhhh...

Sering Beruntung

Ka lau kebetulan Anda punya teman orang Jawa, mungkin Anda akan sering mendengar kata 'untung' . Ucapan ini biasanya keluar saat terlanda musibah, tapi masih ada hal yang bisa disyukuri... Saya sendiri merasa bahwa tiap kali saya mendapat musibah selalu di sisi lain saya diberi keuntungan, atau tiba-tiba ada seorang atau beberapa teman yang datang membuat saya tersenyum. Yang paling sedih bukannya musibah yang datang dari luar, tapi yang datang dari diri sendiri... Terutama kalau berkaitan dengan kelalaian. Orang ceroboh kok sering beruntung? Saya pikir ada keajaiban dobel kalau saya tertimpa musibah yang ini. Pertama, karena saya mendapat tamparan baru, kedua, saya tetap menyadari bahwa saya tetap dikasihi karena dukungan datang tanpa saya minta. Meski saya masih merasa hina juga.

Kanjeng Ratu: KANTI JANGKEP

"Jadi mo ada gamelan?!" salah satu tutur kata Kanjeng Ratu memecah kesunyian, di sore, TV masih menyala dan Masku sedang asyik memelototinya tak berkedip. Kami (aku dan MAS-ku) berdua berpandangan. Topiknya saat itu: perayaan pernikahan aku dan MASku. Kadang, aku menangkap celetukan Ratu itu terdengar seperti sebuah keputus-asaan. Tapi tepatnya keputus-asaan akan kelegaan bahwa nanti pasti keinginannya terkabul. Untuk menyikapi hal yang sama itu aku nggak menganggapnya penting. Aku sering berkeluh kesah dalam hati mengapa kami bertengkar untuk hal2 yang kecil. Dan aku selalu berkeras bahwa aku tidak mau cuma jadi anak manis, menurut pada apa kata ortu tanpa membantah sedikit pun. Hhhhhhh, aku harus melepaskan hawa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada. Mestinya kemarin aku tanya pada Bintang Besar apakah aura Ratu yang menghimpitku sehingga aku sesak begini? (To be continued)....

Libur Lebaran 1

Aku masih duduk di koridor belakang ruang 408, rumah sakit tempat aku lahir dulu, tunggu kegiatan menelpon Mas-ku selesai. Sementara itu calon adik iparku masih mondar-mandir dengan mobile phonenya. Apa ada hubungannya dengan yang terbaring di ranjang 408 ini? Nggak tahu, yang aku tahu cuma Mas-ku- lagi telpon Boss-nya. Maksudnya yg perlu Bossnya tapi Mas-ku yang disuruh telpon. Rupanya Bengbeng sedang telpon gaul, sesekali dia ketawa. Eyang yang kemarin malam dikabarkan kritis. Aku memang lihat, dia sesekali mengigau. sementara ponakan dan cucu-cucunya sibuk berdoa di sekelilingnya. Aku disuruh ikutan berdoa. Tapi aku nggak mau kok malah kesannya 'ngusir' Eyang?! " Wong pasrah, kok?!" kata Masku. Aku senyum dan cepat minggir begitu ada rombongan datang lagi membuat kamar semakin sumpek. Kasihan kalau Eyang nggak bisa napas. Sampai rumah, si Kasep sedang asyik ngobrol di telpon dengan seseorang, "Pacaran, ya?!" "Pacaran apa sih, wong ini Jadul" ...