Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Suara Hati

Rini dan Bagus

Rini sudah mulai pegal ketika telapak kakinya berjinjit mengintip di jendela ruang keluarga sudah hampir 30 menit, ketika tiba-tiba dia melihat anak laki-laki berumur sekitar 2 tahun  berlari hampir menubruknya.   "Dia saja, Bu," kata Rini. Ibu Hartanto mengangguk. Ibu muda itu menggandeng anak sulungnya dan mengajaknya bersama menghadap ke Kepala Panti Asuhan. "Itulah ceritanya bagaimana kamu menjadi adikku," kata Rini sambil tersenyum. Bagus, anak laki-laki yang 30 tahun lalu berlari hampir menubruknya tertegun. Dia tidak ingat bahwa dia tidak lahir di rumah ini.  "Lalu, bagaimana dengan Mbak Rini?" "Aku? Aku ditemukan di depan rumah Ibu. Seseorang menaruh aku di depan rumah Ibu," Rini berkata sambil tersenyum. Kali ini Bagus sulit mengartikan apakah kakaknya tersenyum sedih atau senang. Bagus dan Rini akhirnya membahas soal masa lalu mereka ketika ternyata golongan darah mereka tidak satu pun yang cocok dengan golongan...

Cacimu Basi

Cacimu basi "Tiada pantas kau berada Tiada kau sadar diri Hai, linglung Loyonya dikejar beban" Cacimu basi... "Tak kau mengerti si malang Maumu memuja sang ada" Cacinya memang basi, Tuan Kupinta-Mu rejeki Kumohon-Mu ganjaran Upah tulus hati  Tuhanku lihat sendiri Kumohon jalan-Mu Jika Kau berkenan Letihnya... Sana tumpul Sini tajam Monster tersesat di antara gerombolan priyayi Belati tergenggam di balik punggungnya Dan kau terlena terkena Kau pikir hanya kau yang bisa menusuk sekenanya? Jakarta, 20 Juli 2020

Jika

Ada seribu jika Hargai kisah Lalu sunyi Ada satu jika Di tatap cermin Lalu pening Tiada jika Kalau tetap saja kau  Biarkan ku asing (Jakarta, 17 Mei 2016) 

The Limit # Empowerment - Empowerless

There is limit Between empowerment and empowerless It is humbility and arrogancy The empowered person can be suddenly empowerless When the user of his service doesn't need him again But an empowerless person can be empowered When he tries hard to do anything independently Inspired by my Mom and Dad, love you, both!

Bukan Pusat Dunia

Aku bukan pusat dunia Di sana masih ada batas cakrawala Entah di mana ujungnya

Imaji dan Sendiriku

Imaji liar Dia datang tiba-tiba Juga dibenci karena angan ketinggian Tapi pasti karena menghapus getir yang mengakar Agar pudar Coba tegak berdiri Bukan untuk dikasihani Bukan untuk diberi hati Tapi demi sendiri Mengapa takut sendiri? Ku datang dalam kesendirian Pulang pun sendirian Tak mampu lagiku bilang tidak Masih bisa kusenyum meringis Tapi bukan menangis Sudah habis air mataku Imaji berlari di kepalaku Ingin kuhenti tapi dia datang sendiri Pulang sendiri Kadang tak mau pergi Sudah Lelah Lepas Bebas Note: Foto diambil dari sini . Matur nuwun, Mas Ari.

Meniti Integritas

Sekali lagi aku menyusuri nurani orang Lewat ujung-ujung jari Suara ketulusan Bercampur keresahan Mau dibawa ke mana Zamrud Khatulistiwa ini? Semua peduli Tapi seringkali orang baik dizolimi Bukan tampilan kosmetis Bukan segerobak Rupiah Yang akan kau bawa mati Tapi Integritasmu di Dunia Pelajaran Integritas No 1: Janganlah kau berlaku tidak adil terhadap orang yang tidak kau senangi

Beri Aku Tangismu Saja

Kalau risau teman sejati Beri aku tangismu saja Tapi aku tidak mau menangis bersamamu Aku ubah jadi senyummu Jadi milik kita Kalau risau teman sejati Beri tangismu saja Kau tahu dari dulu Tangis itu tak lama Aku biasa menangis dengan tawa Beri aku sakitmu saja Karena kita tumbuh bersama 32 tahun di gang yang sama Membiarkan dulu air ketubanku mengotori jok mobilmu...

Hedonis

Socrates bilang De Gustibus Non Dispuntandum Est Selera tidak bisa dipaksakan Apalagi didebat: Mengapa? Bagaimana? Terima saja adanya Saat tertentu Tempat tertentu Orang tertentu Selera mencipta: Kepuasan Bahagia? Senang sesaat, bukan kebahagiaan, sayang Dari banyak pilihan, pilihlah nilai tertinggi Tapi sampai kapan?