Langsung ke konten utama

Postingan

True Gift

Sewaktu saya memperingati 1000 hari meninggalnya Eyang Putri di rumah tinggal beliau di dusun Kulon Progo, tempat ibu saya dilahirkan, saya mengingat kenangan ajaran beliau yang diakui sebagai warisan berharga oleh keluarga besar yang pernah dihidupinya. Meskipun kebetulan nafas hidup keluarga besar Eyang itu diwarnai agama Katholik dan Islam, keluarga Eyang terkenal dengan sifatnya yang selalu memberi, terlibat dalam kegiatan bermasyarakat. Spiritualitas 'memberi' sangat menginspirasi hidup saya sampai akhir2 ini. Dan saya ingin membagikannya kepada yang senang membaca blog saya ini :) Memberi: Memberi APA? Sewaktu saya masih bekerja di salah satu institusi pendidikan, saya membantu seorang boss yang kebetulan mengajar dan menghayati masalah Etika Bisnis, membuat buku pedoman Anti Bribery. Salah satu yang menarik dalam modul penyadaran tersebut adalah bahwa orang yang menerima kolusi atau korupsi pun harus menerima sangsi yang berat. Tip disebut sebagai salah...

Sidang Susila

Akhirnya Porn Bill diberi tempat :( Ijinkan saya mengutip apa yang ditulis Martin Handoko dalam bukunya, MOTIVASI Daya Penggerak Perilaku, Kanisius, Jakarta: 1992. Tujuan perbuatan seks menjadi sangat khusus dalam arti tidak lagi tertuju pada sembarang orang berjenis kelamin (tidak dipermasalahkan yang sama atau yang berbeda) melainkan kepada orang tertentu. Inilah perbedaan motif seks pada manusia dan pada binatang. Saya ingat seorang pastor yang mendukung anti RUU Porno (dan tidak mendukung pornografi) yang bilang, "Sebagai laki-laki saya malu dengan adanya RUU ini. Karena seakan-akan saya sebagai laki-laki tidak dapat memanage syahwat, dan malah menyalahkan 'obyek seksual'." Jika bisa, biar pikiran manusia yang dipenjara, karena pikiran manusia itu tidak dapat dibatasi, bahkan seringnya liar... Tergantung pilihan mereka, mau mencipta atau merusak? Kick Andy dalam episodenya yang menampilkan band legendaris Koes Plus, bilang, "Kalau seniman dipenjara, lahirlah...

NRIMO ING PANDUM

Kebetulan saya mendapat tugas mengetik transkrip dari audio rekaman wawancara dengan relawan korban gempa di Yogya tahun 2006. Wawancara ini dilakukan oleh peneliti yang ditugaskan untuk menggali data tentang situasi terakhir masyarakat DIY korban gempa mulai dari 6 bulan, 1 tahun sampai 1,5 tahun terakhir. Tujuan dari penggalian data dari pihak PMI ini terutama adalah mencari kebutuhan manajemen relawan yang masih akan dibutuhkan di masa mendatang, mengingat rawannya wilayah Indonesia akan bencana alam. Yang ingin saya kutip terutama adalah penggalian makna NRIMO atau lengkapnya NRIMO ING PANDUM, menerima sesuatu sesuai bagiannya , yang sudah menjadi kultur masyarakat Jawa Tengah, turun temurun. Bagaimana sikap ini dileburkan dalam realitas kesusahan para korban menghadapi bencana gempa? BERGESER: Para relawan menyadari penghayatan masyarakat Jawa tentang konsep ini sudah mulai bergeser. Sebagian orang menuntut agar dapat menerima bantuan meskipun ada masyarakat lain yang lebih membut...

I Screw Up Everything

Sebagai salah satu penganut zero defect , kalau merepotkan orang banyak dengan membuat kesalahan dengan fatal dan berbekas, tentunya saya harus menghukum diri sendiri. Meskipun superior tidak memberikan punishment yang cukup berarti. It's ok, it's my responsibility. Salah satu cara membangun mentalitas yang sehat adalah berani bertanggung jawab ketika membuat kesalahan, dan bukan melemparkannya (seperti seseorang itu ...ehm). Saya harus berpikir keras bagaimana mengatasi keteledoran yang sering lahir dari tangan saya? mungkin karena beberapa hal berikut ini: Tidak berpikir dengan tuntas. Saya tidak mampu memaparkannya, tapi kurang lebih seperti itu. Saya harus lebih keras memanggil ide2. Terlalu berorientasi pada kecepatan menyelesaikan tugas Kurang kritis, atau cerewet mencari kemungkinan kesalahan Terlalu emosional (itu sebabnya seseorang masih mencap saya labil, kan) Terlalu yakin pasti benar atau yakin bahwa cara yang saya lakukan pasti berguna bagi orang lain. T...

Cewek Matre, Memangnya Semua?

" Cewek matre... cewek matre... ke laut aje.. ." seorang rapper muda Indonesia, menyanyikan syair tersebut... Saya jadi tersinggung, heheheheh... terutama karena saya cewek yang (percayalah) ga matre ...:D Bukan berarti tidak butuh uang, atau materi, tapi maksudnya, saya bukan-lah perempuan yang money oriented ... Mudah-mudahan ada lebih banyak perempuan yang mengemukakan pendapatnya seperti saya kemudian, mungkin dengan alasan logis yang berbeda... Yang lebih penting jangan biarkan stereotype seperti itu menimpa perempuan...Mengapa? Alasan logisnya, versi saya, dapat ditemui setelah selesai membaca artikel ini. Saya bukan seorang feminis... Jadi, kalau saya bicara soal perempuan, terutama bukan karena saya membela kaum Hawa untuk melawan kaum Adam, atau bukan karena saya ini perempuan, tapi karena saya sering tidak menyetujui perlakuan tidak adil terhadap perempuan sebagai second class dalam masyarakat. Rasa kemanusiaan... bahwa setiap orang berhak mendapat penghargaan ...

Pak Tani Tertimpa Kapitalisme Komprador (2)

Dengan sistem desentralisasi yang dicanangkan oleh pemerintah untuk pedesaan, pada prakteknya, ternyata kebijakan desa masih diatur pemerintahan daerah. BPD sebagai sarana aspirasi rakyat pedesaan masih belum berfungsi secara optimal. Meski kapitalisme komprador ini juga menimpa praktek alokasi dana APBD, menurut berita salah satu koran nasional, Desa Bendar Juwana, Pati Jateng taraf hidupnya di atas rata2 desa nelayan yang lain. Daripada menunggu dana dari pemerintah, baiknya kita pelajari hal-hal yang diterapkan di desa tersebut: Social Trust berjalan sempurna ditandai dengan gotong royong dan persaudaraan sebagai relasi kekerabatan Keterlibatan perempuan dalam proses produksi dan penjualan hasil tangkap Hilangnya sistem ijon (lintah darat) diganti pola lembaga keuangan dengan dasar sistem bagi hasil Berikut data kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) 2008: Desa Maju 52.03 % Desa Amat Maju 2.11 % Desa Tertinggal 41.97 % Desa Amat Tertinggal 3.89 %

Pak Tani Tertimpa Kapitalisme Komprador (1)

Sejak jaman kerajaan-kerajaan di Nusantara ini masih berjaya, sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Jangan lupa bahwa bangsa asing yang datang dengan semangat kolonial itu sangat menginginkan hasil bumi rempah-rempah. Namun mungkin tidak banyak orang menyadari potensi negara agraris ini kemudian, setelah merdeka, harusnya menjadi potensi kemakmuran bangsa. Indonesia sempat menjadi negara pengimpor negara terbesar di era 70-an yang kemudian mencapai swasembada pangan pada Juli tahun 1986 sehingga pemerintah mendapat penghargaan dari FAO . Namun rupanya prestasi tersebut tidak lagi dapat dipertahankan karena Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras yang praktek distribusinya menghimpit ekonomi petani di negeri sendiri. Mengapa? Sarana produksi terlalu mahal sehingga margin antara harga produksi dengan harga jual menjadi sangat tipis. Meskipun Indonesia sempat menerapkan revolusi hijau (metode dan tehnik pertanian yang membuat padi tahan hama, responsif...