Langsung ke konten utama

Kesukaan Bertanya

"Hahaha, lucu sekali deh si Syane."
"Bagaimana?"
"Dia menjawab email dari Bos kita dengan gaya seperti pelajar di dalam kelas."
"Ya, Syane itu mungil dan suka sekali belajar."

Dialog di atas adalah cuplikan obrolan dengan teman satu kubikel di kantor. Kami sedang membicarakan salah satu teman kantor yang selalu bersikap seperti anak sekolah. Mengangkat tangannya ketika kami sedang rapat dan diskusi internal. Dia pun siap mengkritisi lagi jika informasi awal yang didapatkan belum jelas. Apresiasi justru kami tunjukkan dengan anggapan pasti bahwa dengan bersikap begitu Syane memang lucu dan menyenangkan.

Berbeda dengan situasi dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA, sekolah homogen putri. Setiap ada yang mengangkat tangan hampir semua pandang mata tak suka tertuju kepadanya. Dia akan dituduh cari muka. Padahal yang bertanya memang kurang mengerti dengan apa yang sedah diajarkan dan bukan berarti yang lain lebih mengerti darinya.

Mengapa kita bertanya? Apakah hanya karena kita tidak tahu? Saya sering menggunakan kalimat tanya untuk memastikan pemahaman saya. Bagaimana pun komunikasi antara 2 pihak saja bisa menimbulkan interpretasi yang lebih dari satu. Kita harus memastikan apakah interpretasi yang kita tangkap itu persis seperti yang mau disampaikan oleh pemberi pesan.

Komentar