Langsung ke konten utama

Kawin Campur


"Hah? Kawin Campur? Kan' artinya sama saja? Maksudnya apa toh?" Istilah ini muncul di kalangan umat Katholik untuk menggagas realita banyaknya kaum muda yang berpacaran dengan yang berbeda agama. Yang saya ingat cukup marak di tahun 1980-an, tepatnya di majalah kalangan Katholik.

Oke, memang Tuhan menyiapkan seorang yang sepadan bagi tiap orang lainnya, tapi Tuhan tidak menyebutkan harus yang seagama kan? :) Karena itu artinya meniadakan saya dong hehehhe.... Bapak saya muslim dan Ibu saya Katholik. Jodoh itu bukan berarti harus seagama ;)

Dan bukan berarti tidak ada kisah sedih di baliknya.

Tentu saya cukup melihat dengan iri kalau melihat teman sekeluarga ke Gereja bersama. Seperti saya 'kasihan' dengan Bapak dan adik yang sholat sendirian. Meski toh sembahyang adalah hubungan komunikasi pribadi dengan Tuhan, tapi kalau pergi bareng itu, mungkin, rasanya lain.

Pikiran nakal masa kanak-kanak timbul untuk menepis kesedihan itu: yang penting dapat dobel parsel. Keluarga kami sering mendapat parsel baik di Lebaran mau pun Natal. Meski tentu itu tidak berlangsung lama. Pasang surut relasi sosial mengikuti masa kejayaan seseorang.

Kisah sedih lainnya adalah ketika seorang teman dipaksa sembahyang dengan lain cara.
"Jantung ini rasanya berdegub lebih kencang dari biasanya."

Lain lagi ketika Almarhumah Tante saya menikah. Ketika akan menikah, Almarhumah memaksa calon suaminya untuk pindah keyakinan. Namun ketika mereka sudah menikah, ganti suaminya yang memaksa Tante saya untuk berpindah. Tante saya meninggal karena Lupus, dan suami yang ditinggal kembali memeluk keyakinannya dari kecil.

Saya meneladani Bapak sekaligus dengan jiwa dan kebiasaannya. Saya masih sering mengucap Bismillahnirrohmannirrohim, Alhamdullilah, Astaghfirullah dan Assalamualaikum di momen yang tepat seperti yang diajarkan Bapak pada saya. Ini salah satu keterbatasan Bapak sebagai orang tua dalam mengajarkan yang terbaik yang beliau punya.

Iman yang saya miliki adalah iman universal. Kalau suatu saat semua orang ingin membela agama, entah apa yang dibela, saya lebih memilih iman yang universal, agama kemanusiaan.

Sampai kini hanya doa ulang tahun dari Bapak yang membuat air mata saya mengalir entah mengapa. Kedekatan jiwa. Dan hanya suara hati saya yang terdengar oleh Bapak. Suatu kali Kanjeng Ratu sms saya dari tempat yang 40 km jauhnya,
"Bapak tanya, kamu menangis kenapa?"
Speechless..

Lalu...."Ketemu di mana?" saya bertanya dengan seorang sepupu yang baru berpacaran dan ingin menikah. Dia menjawab tersipu-sipu. Mmmm... kalau masih malu-malu jangan-jangan masih fase jatuh cinta dan belum jejeg untuk mengambil keputusan yang rasional?

Saya mensyukuri karena Bapak dan Ibu tidak seagama, saya menjadi pribadi yang unik meski sempat dituduh punya dua agama. :) Bagaimana pun jiwa Bapak dan Ibu mengalir dalam diri dan memperkaya hidup saya. Saya sangat terberkati, karena kedua orang tua saya adalah orang baik-baik, minimal mau urip luwih becik.

Setiap putusan ada konsekuensinya, tiap pilihan tidak sempurna karena pada dasarnya manusia itu tidak sempurna. Saya cinta ketidaksempurnaan itu karena justru itu yang membuat saya bertumbuh, percaya deh. :) Yang penting tidak mempertentangkan yang berbeda tetapi merangkainya dalam bingkai kenangan hingga indah.

Note: Foto diambil dari sini http://siary.wordpress.com/page/5/. Matur nuwun, Mas Ari.

Komentar