Langsung ke konten utama

Postingan

Jika

Ada seribu jika Hargai kisah Lalu sunyi Ada satu jika Di tatap cermin Lalu pening Tiada jika Kalau tetap saja kau  Biarkan ku asing (Jakarta, 17 Mei 2016) 

Senandung Zakki

Debur ombak berkejaran seirama nafas, seperti ingin mengiringi senandung Zakki di sana. Seperti rima sajak yang dinyanyikan, buih-buih ombak perlahan menepi, mendekati kakiku. Aku duduk dengan menekuk punggung, memeluk lutut dan menopangkan dagu di antaranya. Sudah cukup lama, semenjak matahari mulai terbenam tidak ada lagi kapal nelayan yang muncul dari batas cakrawala. Zakki masih duduk   di satu batu karang raksasa, tiga meter dari tempat aku duduk. Sebenarnya aku ingin mengajaknya bicara, eh, maksudku, jadi pendengar ceritanya saja aku sudah senang. Dia punya segudang pengalaman belajar dan riset. Kuliah doktor dengan beasiswa mengantarnya ke Jepang. Kecerdasannya tentu akan mampu membuatku terpana. Jika bisa dekat dengannya aku akan bersikap seperti spons, menyerap semua pengetahuan yang akan tumpah dari bibirnya yang kadang senyum sinis.   Aku yang merusak suasana sebenarnya. Aku yang selalu lebih dulu merasa bahwa setiap orang pasti membutuhkan aku. Aku yang berambi...

Kabar Baik

Nihil Obstat: A. Setyawan, SJ "No News is a Good News," seorang teman berkilah ketika saya protes, "Kok,  jarang kelihatan? Nggak kasih kabar, nih?" Saya bertemu lagi dengannya tanpa  sengaja.  Ketidakpedulian. Atau ia tidak menyadari sepenuhnya bahwa keberadaannya di  tengah teman-temannya punya arti. Ketika saya tanya, "Ada cerita apa?" Dia  hanya senyum. Mungkin dia sedang menghadapi masalah yang tidak ingin ia  bagikan pada kami. Pada akhirnya nanti ia akan cerita pada kami, satu geng  homogen perempuan.   Cerita yang disampaikan seorang pada yang lain seringkali disertai agenda  tertentu. Atau, sebaliknya seperti teman saya itu, sumber berita tidak ingin  melibatkan calon pendengarnya, dia memilih berkata "No News is Good News."  Cerita yang menarik yang menjadi bacaan liturgi hari ini adalah keengganan  orang untuk menceritakan kebenaran pada sekitarnya. Hal ini ditunjukkan  dengan sikap mau menerima se...

Setia

Kata RA Kartini "Setia membutuhkan pengorbanan yang besar, bahkan lebih dalam dari cinta."  Saya setuju kalau semboyan itu diterapkan bukan pada orang yang tidak setia. Karena saya sempat heran, untuk apa setia pada orang yang tidak setia? Harusnya, jika Yesus memilih setia pada kondisi tertentu saja, Yudas Iskariot sudah diusir seperti di sinetron. Yesus tahu yang akan terjadi, hal yang pahit bagi-Nya di masa depan, tapi tetap setia pada proses. Di kelas pendidikan formal atau di sanggar musik, tari atau bahasa yang pernah saya ikuti, tidak jarang guru kami jadi cerewet mengingatkan berkali-kali kalau ada yg salah lebih dari sekali. Sebagai murid yang setia, kita akan terus mendengarkan, sebagai guru yang setia ia akan sabar menegur. Marilah kita tetap setia seperti antara guru dan murid, terhadap sesama kita dan Tuhan. Yes. 50:4-9a ;  Mzm. 69:8-10,21bcd-22,31,33-34 ; Mat. 26:14-25 .  BcO  Yer. 15:10-21 Nihil Obstaat: A. Setyawan, S...

Pengorbanan

Tentu kita pernah menginginkan membeli barang yang pernah kita suka. Meskipun harganya mahal, tidak mungkin langsung membeli dengan gaji sebulan. Karena sudah lama menginginkannya, kita pun mulai menabung agar suatu hari dapat membeli barang itu. Kalau tiap bulan mungkin sedikit uang yang tersisa untuk ditabung, ketika berniat untuk membeli barang impian, kita cukup rela untuk menahan diri agar dalam sebulan tidak membeli barang sebanyak yg kita suka. Sing digawe sing dinggo. Ada pepatah Jawa bilang begitu. Apa yang dikerjakan akan berdampak pada diri kita juga. Nilai suatu hal tergantung berapa besar pengorbanan kita untuk memperolehnya. Yesus mengingatkan muridnya untuk tidak sekedar menyebarkan retorika (muridnya menyangkal ttg diri-Nya 3 kali). Ada istilah I walk my talk. Apa yang gue omongin itu yang gue jalanin. Jadi Yesus mengajak kita untuk menghindari NATO no action talk only. Yg membuat kita berubah lebih baik itu bukan sekedar baca KS tiap hari, tapi implementasinya. ...

Mengalah Bukan Kalah

Betapa ketatnya persaingan di dunia kerja saat ini. Masing-masing dari kita tidak hanya bersaing dengan teman tetangga kubikel tetapi juga dengan teman expatriate yang akan datang. Mengalah bukan kalah adalah sikap yang saya anjurkan untuk tetap konstruktif menghadapi kondisi lingkungan terdekat. Bagaimana? Bukannya ini menegasi sikap untuk selalu kompetitif? Tidak. Sikap ini mendorong kita untuk selalu berkarya atau produktif dalam situasi terburuk sekalipun.  Betapa seringnya kita berkeringat dan mengeluarkan otot leher ketika kita mati-matian berdebat mempertahankan pendapat kita. Tentunya - ya - kita harus mempertahankan pendapat jika kita yakin kita benar tetapi dengan cara yang cepat. Bukan dengan debat kusir atau mengulang lagi makna yang sama tetapi dengan menggali lebih dalam makna yang mau kita sampaikan. Bagaimana caranya? Dengan melakukan hal yang positif dan produktif. Karena mengedukasi orang lain memang bukan tugas kita terhadap orang lain jika dia sudah ...

Melihat Ke Bawah dan Ke Belakang

"K-Pop Girl bilang nggak ada," Purple berusaha meyakinkan aku sekali lagi.  "Ada," tukasku cepat-cepat. Lalu kami saling berpandangan dan tahulah aku sekarang kondisi sebenarnya.   "Seharusnya K-Pop Girl janjian sama aku dulu ya kalau mau bohong sama kamu," sepertiga melongo sepertiga tersenyum sepertiga lagi menghibur. "Aku nggak ngerti mengapa dia nggak mau nolong untuk hal yang kecil seperti ini. " "Aku juga nggak ngerti. Menguatirkan persaingan, mungkin? Atau dia sudah merasakan persaingan?" "Trigger-nya bukan dari aku." "Juga bukan dari aku." "Kita nggak boleh pelit dengan ilmu." "Betul." "Trus mengapa dia begitu ya?" "Mana aku tahu?" "Jadi teori mengutamakan kerja tim itu teori doang ya?" "Iya." Kembali aku dan Purple menghabiskan makanan yang ada di hadapan kami masing-masing. Kami berdua termasuk golongan orang yang nggak ngerti s...