Langsung ke konten utama

Postingan

Cewek Matre, Memangnya Semua?

" Cewek matre... cewek matre... ke laut aje.. ." seorang rapper muda Indonesia, menyanyikan syair tersebut... Saya jadi tersinggung, heheheheh... terutama karena saya cewek yang (percayalah) ga matre ...:D Bukan berarti tidak butuh uang, atau materi, tapi maksudnya, saya bukan-lah perempuan yang money oriented ... Mudah-mudahan ada lebih banyak perempuan yang mengemukakan pendapatnya seperti saya kemudian, mungkin dengan alasan logis yang berbeda... Yang lebih penting jangan biarkan stereotype seperti itu menimpa perempuan...Mengapa? Alasan logisnya, versi saya, dapat ditemui setelah selesai membaca artikel ini. Saya bukan seorang feminis... Jadi, kalau saya bicara soal perempuan, terutama bukan karena saya membela kaum Hawa untuk melawan kaum Adam, atau bukan karena saya ini perempuan, tapi karena saya sering tidak menyetujui perlakuan tidak adil terhadap perempuan sebagai second class dalam masyarakat. Rasa kemanusiaan... bahwa setiap orang berhak mendapat penghargaan ...

Pak Tani Tertimpa Kapitalisme Komprador (2)

Dengan sistem desentralisasi yang dicanangkan oleh pemerintah untuk pedesaan, pada prakteknya, ternyata kebijakan desa masih diatur pemerintahan daerah. BPD sebagai sarana aspirasi rakyat pedesaan masih belum berfungsi secara optimal. Meski kapitalisme komprador ini juga menimpa praktek alokasi dana APBD, menurut berita salah satu koran nasional, Desa Bendar Juwana, Pati Jateng taraf hidupnya di atas rata2 desa nelayan yang lain. Daripada menunggu dana dari pemerintah, baiknya kita pelajari hal-hal yang diterapkan di desa tersebut: Social Trust berjalan sempurna ditandai dengan gotong royong dan persaudaraan sebagai relasi kekerabatan Keterlibatan perempuan dalam proses produksi dan penjualan hasil tangkap Hilangnya sistem ijon (lintah darat) diganti pola lembaga keuangan dengan dasar sistem bagi hasil Berikut data kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) 2008: Desa Maju 52.03 % Desa Amat Maju 2.11 % Desa Tertinggal 41.97 % Desa Amat Tertinggal 3.89 %

Pak Tani Tertimpa Kapitalisme Komprador (1)

Sejak jaman kerajaan-kerajaan di Nusantara ini masih berjaya, sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Jangan lupa bahwa bangsa asing yang datang dengan semangat kolonial itu sangat menginginkan hasil bumi rempah-rempah. Namun mungkin tidak banyak orang menyadari potensi negara agraris ini kemudian, setelah merdeka, harusnya menjadi potensi kemakmuran bangsa. Indonesia sempat menjadi negara pengimpor negara terbesar di era 70-an yang kemudian mencapai swasembada pangan pada Juli tahun 1986 sehingga pemerintah mendapat penghargaan dari FAO . Namun rupanya prestasi tersebut tidak lagi dapat dipertahankan karena Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras yang praktek distribusinya menghimpit ekonomi petani di negeri sendiri. Mengapa? Sarana produksi terlalu mahal sehingga margin antara harga produksi dengan harga jual menjadi sangat tipis. Meskipun Indonesia sempat menerapkan revolusi hijau (metode dan tehnik pertanian yang membuat padi tahan hama, responsif...

Uniform

Pada dasarnya tiap orang itu unik. Tapi ketika ia berada dalam suatu kelompok, ada rasa sense of belonging di sana, dan memerlukan bukti identitas yang menyatukan, diciptakanlah seragam. Ikatan Sosial Tentu semua yang pernah mengenyam pendidikan formal mengalami ikatan berseragam di sekolah. Ada keharusan yang membuat anak didik mengerem kebebasannya (disiplin) untuk mau sedikit serupa dengan yang lain. Tidak saja rupa seragam tetapi juga cara mengenakannya pun diseragamkan. Ujung bawah kemeja harus dimasukkan ke sebelah dalam celana atau rok, misalnya. Aksesoris ketika mengenakan seragam pun tidak boleh macam-macam. Rambut tetap sama hitam, perhiasan secukupnya dan sebagainya. Untuk apa sih kita disiplin? Ya karena kita berkegiatan bersama orang lain, untuk menghindari benturan kepentingan, untuk meminimalisir tampilan kesenjangan sosial dan demi efisiensi dan efektifitas kegiatan. Seragam tidak ditujukan sebagai pemisah atau menciptakan sekat-sekat sosial. Jika memang seragam perlu ...

Jadi Manusia Merdeka dan Konsekuensinya (2)

Seperti yang ditulis seorang pakar psikologi, masalah KKN ternyata saat ini masih menunjukkan tiadanya manusia merdeka. Bukan karena pihak luar, tapi karena diciptakan sendiri, mmm.. Seperti kasus Urip dan Arthalytha . Awalnya, seorang Urip bermaksud menaikkan citra dirinya dengan segepok uang yang diterimanya (dengan syarat, cara mendapatkannya tidak ketahuan masyarakat) tentulah pamornya di lingkungan dan masyarakat naik sebagai orang yang kaya raya. Sayang, karena rekaman pembicaraan mereka tersiar, justru keadaan berbalik, harga diri beliau menurun, karena, tentu saja, dengan sejumlah uang yang diterimanya itu ia harus menerima apa saja yang diperintahkan Arthalytha . "Ini bisa dipahami karena logikanya orang yang memberi itu powernya lebih besar dari orang yang menerima," kata Zainal Abidin , Dosen Fakultas Psikologi UNPAD dan PASCA UI Depok. ( Kompas , Sabtu,16/08/08) Saat harga profesi bisa ditukar dengan nominal rupiah, seseorang bisa menderita inferiority complex ...

Jadi Manusia Merdeka dan Konsekuensinya

"Merdeka atau Mati!" dulu para pejuang kemerdekaan menjadikan seruan itu sebagai semangat juang.. Setelah sekarang merdeka, apakah semboyan semangat juang kita? Bukankah semenjak lahir kita telah menjadi manusia yang merdeka? Kita ingin merdeka seperti apa? Bebas seperti burung terbang ke angkasa (simak lagu Donna Donna yang sempat dilarang pada masa penjajahan) ? Atau menerima keadaan merdeka sebagai manusia dengan batasan peranan dan nilai-nilai yang harus terus dibawanya? Mari temukan dulu arti merdeka... Dari hasil search engine tentang arti merdeka , ternyata kebanyakan orang sama seperti saya, sama2 mempertanyakan arti merdeka... :) Seorang filsuf mengandaikan kemerdekaan seperti senar gitar yang dapat bersuara merdu, justru ketika kedua ujung diikat sedemikian rupa sehingga satu senar dengan lainnya punya nada yang berbeda-beda. Apakah kemerdekaan itu harus ada batasannya? Atau, apakah merdeka identik dengan bahagia, kemakmuran dan kemajuan? Dulu saat masih terjaja...

Horeluya

Judul: Horeluya Penulis: Arswendo Atmowiloto Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama Tahun: April 2008 Tebal: 240 hal, 20 cm Genre: Adult Fiction Buku yang masuk segmen minoritas ini seperti ingin menanggapi trend sastra yang sedang diminati kalangan mayoritas (tepatnya skala mayor minor di Indonesia saja). Saatnya nanti akan membedakan apakah novel ini cukup menarik minat banyak orang untuk juga difilmkan menimbang skala mayor dan minor tersebut. Tapi ini cuma berandai segmen pasar aja kok. Isi novel menampilkan kondisi sekarang dengan latar belakang keluarga Jawa iman Katholik. Cahaya dalam keluarga meredup ketika penerang mereka Lilin, jatuh sakit. Banyak hal kemudian dipertanyakan, untuk mengkritisi kebahagiaan sendiri juga iman sendiri: Apakah dalam sengsara kita masih dapat memuliakan Allah? Apakah masih dapat disyukuri? Mengapa orang Katholik berdoa di depan patung? Seperti ingin menertawakan fobia terhadap simbol2, semua ingin menjelaskan realitas iman...