Langsung ke konten utama

Postingan

Hair LOSS

Catatan usaha perbaikan mahkota perempuan, tanggung jawab katanya... Jumat, 3 Maret 2006 Diriku sedang menguatkan hati berusaha keras menebalkan dan memanjangkan rambut, mulai dari teh basi, urine, lidah buaya. telor, mentega, sekarang beli Ultra Hair 330 rebu plus Bio Hair 70 rebu. Ini hari ketiga, hoping it works badly! Kamis, 16 Maret 2006 Di tengah garis BT (Belah Tengah) sudah tampak anak-anak rambut-rambut. Mudah-mudahan bukan bapak -ibu rambut yang patah atau setengah rontok. Bagian depan dan tengah memang aku hajar habis dengan Bio Hair. H2C (Harap-harap Cemas).

Mangkok Kesayangan

Nun jauh di Lantai Empat ini, unreachable place for Office Boy and Girl, terhitung mangkok cuma ada 2 di pantry: satu warna merah satu warna putih motif kotak-kotak hijau. Suatu hari, kejadian berulang, mangkok2 kesayangan yang dicuci di dapur lantai 1 tak kunjung dikembalikan. Membayangkan pahitnya menunggu antaran dan habisnya waktu mencari OB dan OG, tak ada mangkok gelas pun jadi. Gelas super besar ukuran vas bunga itu (gambarnya juga bunga) pun jadi korban masak mie instant kuah. Agak susah seh nyendoknya. Tapi apa boleh buat? Survive gitu loh.

Sepatuku Menara Pisa

Janji dengan tukang sepatu delivery ditepati, meski lewat sehari. Pada hari yg dijanjikan sebelumnya, banyak tamu yg datang ke Kios. Jadinya dia tidak bisa pergi. Perawakannya gemuk tidak seperti yang saya perkirakan. Beliau sudah siap dengan tas besar dengan gambar model2 sepatu dan bahan yang bermacam-macam. "Pak, habis ini ada acara ngggak? Tunggu sebentar ya, teman-teman saya sudah terlanjur keluar untuk makan siang. Mungkin mereka baru kembali jam 13.00." "Nggak apa-apa Mbak, saya tunggu saja" kata Pak Didin dengan manisnya. "Silakan diminum dulu," saya menawarkan minum Aqua gelas. Sementara itu saya melihat-lihat model dan bahan. Saya pilih satu model maskulin dengan hak 5 CM, dan ukuran kaki 39. Teman-teman memesan dengan model aneh-aneh dan Bapaknya harus membawa model sepatu yg sdang dipakai "Wah nanti saya nyeker dong" kata sekretaris Moderator Bedah Bisnis. "Yah kalo nggak dibawa saya nggak berani," kata Pak Didin dengan sedi...

Bonus Test

Berkat petisi bonus seluruh karyawan di kantor mendapat hadiah 2 hari test personal assessment. Hari pertama test kepribadian. Udah pernah sih lihat test model itu: Lajur Satu pasti Koleris, Lajur Dua: Melankolis, Lajur Tiga: Sanguinis terakhir lajur Empat itu Flegmatis. Nggak mungkin deh kita contek2an kalau nggak mau dibilang berkepribadian ganda. Hari kedua test kinerja dengan menuliskan apa menurut kita kerjaan kita. Dikasih waktu sekian, tapi aku ngerjainnya sampai kertasnya penuh, kubilang mengarang indah. Tapi nggak ngarang kok, cuma segala-sesuatunya aku break down sampai hal yang paling kecil. Tapi akhirnya pucat aku, karena ada rumor kalau hasil test yang ini mau dicross cek sama atasan yang bersangkutan. Untung aku nulisnya nggak hiperbola. Terakhir aku mesti nulis CV, mulai nama, alamat, no telp, pengalaman kerja, pendidikan formal, training, prestasi dan aktifitas kemasyarakatan. Huah, apa aku 'diterima kerja' ya?! Lho?!

HARI EKSEKUSI

Masih ngadem di depan TV, sambil nunggu giliran mandi, pintu depan digedok2 orang. Aku inget2 ini tanggal berapa ya. Masih tanggal tua, kok Miss Emperor udah sampai di mari? Ada apa ya?! Rrrring, bunyi telpon minta diangkat segera. "Eh, gue belum bukain pintu, tuh, sorry, ini g mau angkat telpon." Rupanya Miss Bee yg telpon. Mercedez bergegeas ke depan, buka pintu untuk tamu agung. Kok nada2nya nggak enak ya?! Miss Emperor ambil posisi. Temen kos lainnya juga ambil bangku dan duduk dengan formasi setengah lingkaran. Miss Selfish dipanggil. FGD dimulai. Beberapa menit telpon si Bee selesai, tahulah aku apa yang dibicarakan: Mr. Horny. "Aku memang udah ngerasa kalo dari awal, banyak yang nggak suka sama gue," suara Mrs Selfish bernada memelas. "Kenapa?!" Mrs Emperor langsung menyahut dengan nada yang sengit cenderung sadis. Mercedes angkat bicara, "Karena, setiap co Mbak masuk sini nggak ada tuh sopan santunnya, nyapa kita kek, permisi kek, seperti ngga...

Ada Cowok Nggak?

Handukwati sedang konser kamar mandi. Lagu-lagu yang banyak cengkoknya itu jadi terdengar sepoi-sepoi, tertutup sedikit suara hujan di luar. Suasana sore ini masih ditambah suara alto penyiar berita di TV: gempa di Maluku. Di perbatasan Jakarta-Bandung, Jalan tol Cipularang ditutup, sementara para pekerja yang bertugas sibuk menambal dengan semen (?!) meski masalah sebenarnya adalah bagaimana mendirikan konstruksi bangunan di tanah gambut. Ini bukan kejadian yang pertama kalinya, banyak orang sudah tahu. Suara kran berhenti berikut konsernya. Krieeet. "Ada cowok nggak?" aba-aba tuan putri mau keluar kamar mandi. "Nggak ada," refleks kami menoleh ke ruang tamu sebelum menjawab. Posisi duduk kami di ruang tv membelakangi ruang tamu. Kadang-kadang kalau aku yang selesai mandi, aba-aba itu kutambah,"Ada aja deeeeeh." Atau kalau kebagian jawab, "Ada, di luar." Setelah kuperhatikan sekarang pacar si Selfish juga lebih toleran, lebih refleks dan sukarel...

Tukang Ojek Langganan

Hujan deras. AC di ruangan sekretaris Staf Tetap tambah dingin. Untung habis makan malam kantin badan tetap hangat. Soal untuk Self Assessment SPO baru sampai nomor sekian, dan mata sudah sangat mengantuk. Centilwati sudah membereskan meja, "Ayo pulang" Yuk, aku juga bersiap menutup buku Test Bank dan memasukkan barang -barang ke dalam lemari, termasuk pesawat telpon, tissue, dan kalender. Masuk pintu depan, Mercedez masih berdiri depan pintu mengantar sang kekasih tercinta. "Mbak tadi dicari Mas" "Jam berapa ke sini tadi?" "Jam tujuh deh" "Mbak tadi dicari tukang ojek langganannya" Info Girl langsung menyambut, begitu aku masuk pintu depan. Mercedez menahan tawa. "Bener kok tadi dia bilang begitu," kata Info Girl dengan mimik serius. "Tukang ojek pribadi ....kali" tukasku setengah senyum. "Adeeeek," setengah berseru Pavarotti Female melotot.