Monday, July 07, 2008

Berjalan di Atas Air

Sekarang banyak reality show ditayangkan di televisi, mulai dari tontonan yang mengundang rasa ngeri, lucu, belas kasihan, mengundang kekaguman atau bahkan sekadar mengumbar cerita pribadi seseorang, mengubahnya menjadi konsumsi publik.

Sampai sekarang, saya masih senang menonton sulap, tidak hanya dulu sewaktu kecil. Pertunjukan sulap memang melampaui pikiran manusia tentang hal yang wajar terjadi sehari-hari. Meski orang bilang itu hanyalah kecepatan tangan atau tipuan mata, setiap penampilan sempurna pertunjukan sulap tidak hanya meninggalkan decak kagum tapi juga senyum di bibir penonton.

Baru-baru ini Deddy Cobuzier seorang yang mengaku Mentalist, menunjukkan kebolehannya berjalan di atas air, di sebuah public pool. Para pengunjung yang kebetulan sedang berada di dalam kolam membuktikan kebolehan Deddy dengan berenang, menyelam di bawahnya...

Dalam film "the Prestige", ada tahap-tahap utama dalam setiap formula pertunjukkan sulap. Semua tahap ada pemahaman logisnya, entah hal itu dapat dengan mudah diketahui umum atau tersimpan rapat dalam peti pikiran sang pesulap. Semua penjelasan di belakang rumusan rahasia yang mereka buat merupakan konsekuensi logis dari skenario besar sang pesulap...

Sementara dalam hidup, saya belajar bahwa pada akhirnya tidak semua hal ada penjelasan logisnya, karena akhirnya kita tidak dapat mengetahui segala sesuatu. Pada akhirnya tidak semua pertanyaan ada jawabannya (misteri hidup?)

Pada umur 10 tahun, saya diminta mengikuti kaderisasi dalam organisasi koor cilik. Seorang teman membacakan: Yesus Berjalan di Atas Air (Mat 14: 25-30).

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"

Pada akhir sesi itu dia berbisik pada saya,
"Kamu merasakan sesuatu 'ga?"
"Apa?"
"Bahwa yang dimaksud itu kamu, kamu punya kelebihan, intelligentia, tapi kamu tidak percaya diri, Nge"

Lewat seorang sahabat (saat ini dia ambil S3 Teologi di Roma, seorang pastor), saya dibukakan mata akan masalah mendasar dalam diri saya yang harus cepat-cepat saya selesaikan. Salah satu hadiah yang berarti buat saya sepanjang hidup, sampai sekarang. Meskipun pada saat saya berumur 22 tahun ternyata masalah itu belum selesai, karena boss saya masih menulis dalam appraisal form: kurang percaya diri... hiks ...

Dalam hati ini untuk selalu menyembuhkan luka yang ini saya selalu mengingat: "Jika Engkau itu Yesus, panggillah aku, maka aku akan datang padaMu, berjalan di atas air" sebab saya harus ingat-ingat dalam 1 Ptr 5: 7:"Serahkanlah kekuatiranmu padaNya, sebab IA yang memelihara kamu"

dengan cinta dan doa...

5 comments:

Ig. Budiono said...

Bacaan hari Minggu ini (MB XIXA) kebetulan tentang teks yang ada kutip di atas. Sebuah teks yang sungguh menarik dan sangat berbicara, dan bisa menjadi "doa kita". Semoga Tuhan sungguh membantu kita, bukan pertama-tama berjalan "di atas air", tetapi berjalan "di atas" bumi, tanpa tenggelam, tanpa takut di tengah banyak badai sehari-hari. Salam dan saling mendoakan.

Anonymous said...

Terima kasih Pak, silakan sering2 mampir. Tuhan memberkati. *Inge Sundoko*

Ig. Budiono said...

Nggak sengaja saya membuka blog anda ini. Judul blog dan profil anda rasanya menarik. Saya baca beberapa tulisan anda di sini: tentang hal-hal sederhana, dengan bahasa yang sederhana pula, tetapi menarik dan unik, kadang pula lucu. Mungkin memang ada banyak hal menarik dalam hal-hal sederhana dan sehari-hari kita. Berkah Dalem ugi.

Anonymous said...

Iya Pak. Terima kasih. Yesus juga memilih hal-hal sederhana dalam memulai hidupnya di dunia,lalu mengantarkan ajarannya dengan perumpamaan-perumpamaan. Mudah-mudahan kita bisa meneladan hidupNya yang sederhana tapi luar biasa (yang kadang kita malah harus berpikir keras untuk menangkap maksudNya).

with love and prayer,
Inge Sundoko

Anonymous said...

Menambahkan... dulu seorang frater pernah mengajarkan saya cara membaca KS dengan..."Kamu sudah merasa bahwa suara kamu keras belum?" "Belum." "Oke, yakinkan dirimu dulu bahwa suaramu sudah keras dan cukup didengar orang." Mudah2an tidak pernah lupa lagi.

our reality

our reality
what is our reality? searching for understanding...'awareness' needed by people with their juggling time.. they need to evaluate and keep focusing on their own vision and mission of life or they live in vain..theory comes after practice..perhaps there is truth behind each rebellion..

About Me

My Photo
Qoenang-Qoenang
Seorang yang humanis, sosialis, dan perseptif. Memandang gelap terangnya dunia seperti Qoenang-Qoenang yang kadang redup atau bercahaya. Misinya sebagai Jembatan-Buatan membuatnya harus terus dibentuk agar kuat menerima tiap nilai hidup dan membagikannya pada orang lain.
View my complete profile

Cerita Label...

Hidup asalnya dari CAUSA PRIMA, monotheis, sumber segala penyebab... Setelah sekian tahun dididik dengan pedagogi di sektor pendidikan formal, tiba saatnya kita berpikir mandiri dengan cara-cara ANDRAGOGI. Cara belajar yang paling mendasar adalah meniru. Mulai ketika memanggil 'ayah dan ibu'.. manusia tumbuh dewasa dengan cinta tulus lewat PARENTING... Lewat APRESIASI DAN REFERENSI kita memulai proses itu. Ketika anak Hawa ini labil, larut dalam afeksi dan emosi, dapatkan saat saya BERSINAR dan REDUP... Perspektif dan seni menulis dengan segala aspeknya dapat dipahami lewat COPYWRITING. 'Kebenaran'nya digali dengan JURNALISTIK.. Sementara kredibilitas seseorang dilihat dari logical frame of thinking-nya. Silakan kritik saya dalam tiap CORRECT ME IF I AM WRONG . Dalam cerita KELEMAHAN, inilah sisi manusia. GOSIP KANTORAN bercerita tentang suka duka buruh. Dengan belajar MODERNITAS dan TIPS TRIK atasi rutinitas tiap hari, tiap orang punya beda-beda cara. Dalam NARSIS, saya lebih mawas diri. PASTORALIA, adalah portofolio saya saat menulis di buletin rohani, Berita Sepekan, mingguan Paroki SPMR, Jakarta Selatan. PENGHUNI KAMAR SEWA bercerita tentang 4 tahun hidup jadi anak kos. Inspired person yang pernah saya temui dan saya kenal, saya tulis dalam PROFIL... SUARA HATI saya tulis dalam puisi. Hmmmm kata Pramudya menulis itu bekerja untuk keabadian....Selamat membaca...